"Harusnya kita lihat itu sebagai pasar bukan tantangan tapi peluang, China harus kita manfaatkan karena ekonomi dunia nomor satu, pasarnya besar," kata Sekjen Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia Lisman Sumardjani di acara konferensi pers di kementerian kehutanan, Senin (25/4/2011).
Ia menjelaskan budaya masyarakat China sangat dekat dengan pemakaian rotan, misalnya penggunaan rotan di setiap rumah dianggap sebagai barang eksotis. Selain itu, lanjut Lisman, pasar China sangat unik karena menerima semua jenis rotan, ini sangat cocok dengan karakter petani rotan Indonesia yang biasa mengambil semua jenis kualitas rotan di hutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspor rotan Indonesia ke China ini hanyalah kurang lebih 6% dari total ekspor rotan dan produk rotan Indonesia ke pasar dunia. Berdasar data dari BPS di 2005 ekspor rotan dan produk rotan Indonesia ke China dan Hongkong mencapai US$ 14,4 juta, kemudian di 2006 meningkat menjadi sebesar US$ 18,8 juta.
Kemudian di 2007 meningkat menjadi US$ 23,9 juta. Di 2008 mencapai US$ 23,5 juta, dan di 2009 sebesar US$ 23,7 juta.
Ia menuturkan kebijakan pemerintah yang selalu membuka tutup kran ekspor menyebabkan ketidakpastian bagi pelaku eksportir rotan. Misalnya selama periode 1998 hingga 2003 saat kran ekspor rotan terjadi pertumbuhan ekspor produk rotan sebesar 87% dan jumlah nilai ekspornya meningkat menjadi 72%.
Kemudian saat larangan ekspor kembali dilakukan di 2004 berdampak terhadap pertumbuhan volume ekspor produk jadi kembali turun 4% atau nilai ekspornya hanya naik 3%. Sementara pada periode kebijakan pembatasan ekspor rotan terkait wajib pasok terjadi penurunan ekspor produk jadi justru turun 25% atau nilai ekspornya turun 26%.
"Pemerintah selama ini mengeluarkan kebijakan on off (buka tutup) terkait ekspor rotan," katanya.
Seperti diketahui masalah ekspor bahan baku rotan terus menjadi polemik eksportir termasuk petani rotan dengan para perajin industri di dalam negeri. Masing-masing pihak berkilah terhadap kepentingannya masing-masing.
Pihak eksportir menganggap pelarangan ekspor rotan sangat merugikan karena penyerapan rotan di dalam negeri sangat terbatas sedangkan produksi tinggi. Sementara para perajin industri dalam negeri menuding langkah ekspor bahan baku rotan sama saja memberikan peluru ke pesaing industri rotan Indonesia seperti China dan Vietnam.
(hen/dnl)










































