Impor dari China Capai US$ 1,37 Miliar, RI Makin Tekor

Impor dari China Capai US$ 1,37 Miliar, RI Makin Tekor

- detikFinance
Senin, 02 Mei 2011 16:36 WIB
Impor dari China Capai US$ 1,37 Miliar, RI Makin Tekor
Jakarta - Defisit perdagangan antara China dengan Indonesia kian melebar. Hal ini terlihat dari meningkatnya impor dari China ke Indonesia per Maret 2011 yang mencapai US$ 1,37 miliar, dari bulan sebelumnya US$ 1,34 miliar.

"Tren defisit perdagangan dengan China memang membesar. Tapi, ekspor ke China juga naik," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (2/5/2011).

Berdasarkan data BPS untuk Maret 2011, defisit perdagangan produk non migas Indonesia-China mencapai US$ 668 juta, atau naik dari US$ 327 juta pada Januari 2011.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makin besarnya defisit perdagangan Indonesia dengan China ini turut memengaruhi neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2011. Karena China merupakan pengimpor terbesar ke Indonesia.

Sebagai informasi, surplus perdagangan Indonesia per Maret 2011 mencapai US$ 1,6 miliar atau turun 1,25% dari Februari 2011. "Kami melihat belum ada keseimbangan dengan China," ujarnya.

Dari data BPS, beberapa barang yang mayoritas diimpor dari China adalah barang modal dan barang konsumsi seperti telepon seluler sebesar US$ 107,7 juta dan laptop US$ 59,7 juta, serta buah-buahan segar US$ 24 juta. 

Menurutnya, barang-barang impor dari China memang tidak bisa dibendung masuk ke Indonesia karena harganya murah dan kompetitif. "Kami tidak perlu menahan impor dari China. Struktur impor yang besar dari China juga membawa teknologi dan investasi yang besar," ujarnya.

Rusman menilai kenaikan nilai impor dari China terlihat lebih tinggi karena catatan impor Indonesia lebih baik dengan adanya perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA). Hal tersebut karena berkurangnya barang-barang selundupan.

"Barang impor yang tidak tercatat karena selundupan ini dampak dari FTA, mungkin dari dulu barang impornya sudah ada tapi diam-diam, sekarang karena nol persen jadi buat apa diselundupin sehingga barang selundupan pun berkurang," tandasnya.

(nia/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads