RI Minta Utangan ke JP Morgan

RI Minta Utangan ke JP Morgan

- detikFinance
Selasa, 03 Mei 2011 17:15 WIB
RI Minta Utangan ke JP Morgan
Jakarta - Bos perusahaan terbesar di dunia yaitu JP Morgan Chase & Co menemui Presiden SBY. Dalam pertemuan tersebut, SBY meminta JP Morgan untuk membantu proyek infrastruktur di Indonesia lewat kucuran utang.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengatakan, Presiden meminta JP Morgan ikut serta dalam proyek infrastruktur Indonesia karena biaya yang dibutuhkan besar.

"BUMN saja sudah diminta untuk mengeluarkan atau melakukan pembiayaan sebesar US$ 100 miliar dari Rp 835 triliun itu. Belum lagi yang non BUMN, belum lagi yang dari luar negeri. Ini kan semua perlu pinjaman itu saya rasa peran dari JP Morgan," jelas Gita di Istana Presiden, Jakarta, Selasa (3/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gita menambahkan kebutuhan yang cukup besar untuk proyek Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ini memang tak bisa sendirian ditanggung pemerintah.

BUMN sudah berkomitmen membantu US$ 100 miliar, lalu sebesar US$ 100 miliar akan didapat dari non BUMN, dan sisanya US$ 100 miliar dari asing. "Jadi utang mau ga mau harus datang dari lembaga keuangan dalam dan luar negeri," katanya.

Di tempat yang sama, Jamie Dimon selaku Chairman dan CEO JP Morgan Chase & Co mengatakan perbincangannya dengan SBY menyangkut soal infrastruktur, energi, ekonomi dunia, dan juga soal kenaikan aharga minyak.

"Kami akan terus tumbuh di Indonesia dengan baik. Investasi kami di Indonesia bertujuan membantu pemerintah," tukasnya.

Seperti diketahui, majalah Forbes melansir 2.000 perusahaan publik terbesar di dunia. Raksasa finansial Amerika Serikat (AS), JP Morgan Chase & Co kembali menempati posisi pertama untuk dua tahun berturut-turut.

JP Morgan menempati posisi perusahaan paling besar di dunia versi majalah Forbes dengan nilai aset US$ 2,117 triliun, sementara pencapaian labanya sebesar US$ 17,4 miliar di 2010. Perusahaan keuangan ini mempunyai kapitalisasi pasar senilai US$ 182,2 miliar.


(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads