"Pertama, tinggal lah bersama kami untuk jangka panjang," kata SBY saat memberikan sambutan di Ballroom Hotel Sangri La, Jakarta, Rabu (4/5/2011).
"Kita masih ingat krisis keuangan pada tahun 1990-an, ketika sejumlah besar modal melarikan diri dari Indonesia, dan hanya sedikit yang tetap berada di sini selama masa sulit. Butuh beberapa waktu bagi kita untuk memulihkan dan reformasi sistem kami," kata SBY.
Pesan kedua SBY, agar pengusaha AS memiliki mitra lokal yang baik. Seorang mitra yang baik yang mengerti pasar lokal, dapat membantu mengelola dan menyelesaikan berbagai persoalan.
"Sedangkan yang ketiga, bersabar, tekun dan gigih. Saya yakin jika anda (investor) sabar, rajin dan gigih, pada akhirnya usaha anda akan sukses," kata SBY.
Pesan keempat SBY, agar pengusaha AS banyak menggunakan tenaga kerja Indonesia. "Saya jamin mereka ini adalah investasi terbaik yang dapat anda gunakan. Anda bisa tanya kepada investor dari negara manapun yang telah bekerja di sini, dan mereka akan memberitahu anda bahwa orang-orang kami adalah pekerja keras, dinamis, kreatif, berpikiran terbuka dan terampil," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini termasuk program tanggung jawab sosial, menjadi bagian dari dinamika masyarakat setempat," ujar SBY.
Forum investasi internasional OPIC diharapkan dapat menarik banyak investor asal Amerika Serikat (AS) ke Indonesia, atau benua Asia secara umum dalam 3 hingga 4 tahun ke depan. Dengan dua bidang yang menjadi fokus pembangunan utama adalah infrastruktur dan manufaktur.
"3 sampai 4 tahun akan naik. Terlebih saat Obama sendiri yang purpose bahwa Indonesia menjadi tuan rumah (forum OPIC ketujuh). Ini baru pertama kali, dan tidak hanya sebatas asuransi namun investasi," kata Kepala BKPM Gita Wirjawan ditempat yang sama.
Menurut CEO OPIC Elizabeth Littlefield, perusahaan multinasional di dunia kini tidak hanya mementingkan potensi investasi namun juga keberlangsungan lingkungan. Ini menjadi isu utama dan menjadi perhatian para investor.
"Indonesia atau Asia dapat membantu bisnis. Ini tidak hanya milik investor namun juga seluruh pihak," tuturnya.
Investasi yang layak bagi Indonesia atau negara berkembang lainnya di Asia, sangatlah luas. Elizabeth mencontohkan infrastruktur jalan tol, pelabuhan, telekomunikasi, pembangkit listrik dan energi terbaharukan.
"Seluruh bidang harus ramah pada iklim. Juga bisa masuk pada investasi geothermal atau tenaga surya. Potensinya sangatlah tinggi," jelas Elizabeth.
Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel mengatakan pemerintah juga harus memperbaiki kebijkan dari waktu ke waktu agar investasi terus berjalan dan pada akhirnya mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sementara itu masalah keraguan investor terkait kebijakan moratorium sempat ditanyakan investor kepada pemerintah. Namun kembali pemerintah menggaransi bahwa pemanfaatan lahan secara komersil masih dapat dilakukan selama bukan di area hutan lindung.
"Utamanya regulasi di bidang kehutanan. Tentang moratorium. Kami menjelaskan itu khusus untuk hutan-hutan lindung dan lahan gambut. Tapi lahan terlantar dan konversi, bisa dimungkinkan untuk komersial asal mematuhi hukum yang ada. Tata ruang nasional kita juga sudah hampir siap," tambah Menteri Perindustrian MS Hidayat.
Konferensi OPIC di Indonesia merupakan pertemuan para pengusaha AS dengan para investor, lembaga keuangan, mitra serta pejabat pemerintah lokal. Konferensi akan difokuskan pada akses untuk investasi dan perdagangan di bidang keuangan, private equity, infrastruktur, pariwisata, dan kewirausahaan, dengan penekanan pada sektor energi dan teknologi ramah lingkungan.
(anw/hen)











































