Hal ini disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan di sela-sela forum Overseas Private Investment Corporation (OPIC) tema 'Access to Opportunity in Southeast Asia' di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (4/5/2011).
"(Investasi dari AS) Insya Allah naik. Ini kan long term ya. Saya maunya steady stage (stabil) minimal US$ 1-2 miliar per tahun ke depannya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Coca Cola yang kini memiliki pangsa pasar 80 juta konsumen di Indonesia, diharapkan akan naik double. "Kan masih ada 160 juta lagi. Mereka siapkan investasi US$ 500 juta. Kalau Coca Cola lebih immediate," ucapnya.
Selain Coca Cola, masih ada Caterpillar dengan nilai investasi US$ 300-500 juta. Perseroan masih menunggu kebijakan insentif pajak, sebelum akhirnya mereka memutuskan masuk Indonesia.
"Caterpillar belum punya pabrik sama sekali di Indonesia. Mereka sudah lama mengeliat, mau bangun, karena mereka sudah bangun di Thailand. Kalau mereka dapat insentif fiskal, sudah pasti mereka ngebangun disini," tambahnya.
Gita menilai, ekonomi AS sudah mulai tumbuh usai krisis 2008. Potensi pertumbuhan ekonomi disana diperkirakan mencapai 3,5-4%. Khusus untuk kawasan Eropa, Gita tidak terlalu berharap karena mereka masih proses perbaikan ekonomi.
"Kita nggak terlalu berharap dari Eropa lebih dari level-level yang sudah ada. Kita harus sadarlah Eropa lagi ngalamin recovery dibanding US. Lebih ke arah sosialisasi, sebelum mereka recovery. Penjajakan sejak awal. Potensi ke depan, mereka msh tinggi. Inggris aja skrg sudah nomor dua," tutur Gita.
Duta besar Indonesia AS, Dino Pati Djalal menambahkan, banyak sekali investor AS tertarik akan Indonesia sebagai tempat investasi. Dino menyebut Caterpillar sebagai salah satu perusahaan bagus.
"Ada beberapa lagi ke depan. Caterpillar is good development. Ada lagi Cargill (Cargill dan Mars). Detilnya belum. Selama saya di AS, cukup banyak yang serius menjajaki pasar Indonesia. Tapi belum mau announce (diumumkan). Memang kita dilihat sebagai pasar yang sangat promising," imbuhnya.
"Selama ini merka investasi di mining. Kita akan coba invite mereka di manufacturing, ritel dan services. Kan banyak labour intensif yang akan masuk ke Asia. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada yang terealisasi," pungkas Dino.
(wep/dnl)











































