Pemerintah dan BI Perlu Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Selasa, 15 Jun 2004 14:53 WIB
Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) diminta untuk melakukan kebijakan ekstra hati-hati serta pengetatan yang lebih baik lagi untuk menghindari larinya investor ke AS menyusul rencana kenaikan suku bunga The Fed hingga 50 basis poin. Alasannya pengaruh ekonomis AS kepada ekonomi dunia sangat besar."Kalau kita tidak hati-hati ke dalam dan melakukan pengetatan secara lebih baik lagi maka akan banjir bandang (pelarian modal ke luar negeri) karena kita tidak bisa kontrol pernyataan Alan Greenspan (Gubernur The Fed)," kata Dirut Bank Lippo Joseph Luhukay di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (15/6/2004).Joseph juga menyebutkan gejala kenaikan suku bunga The Fed jika tidak disikapi secara hati-hati bisa mempengaruhi perekonomian Indonesia meskipun kalangan eksportir bisa tumbuh dengan bagus. Oleh karena itu BI, selain melakukan lobby dengan bank sentral lain juga akan menaikkan suku bunganya. Jual AYDADalam kesempatan yang sama Joseph juga menjelaskan manajemen dalam RUPS 29 Juni 2004 nanti akan mengusulkan opsi penjualan AYDA (aset yang diambil alih). Alasannya jika tidak dijual justru akan merugikan Bank Lippo. Selama ini, katanya, biaya operasional untuk mengelola AYDA termasuk opportunity lossnya mencapai Rp 300 miliar setahun. Dia juga memastikan jika opsi penjualan disetujui maka penjualan akan dilakukan dengan hati-hati dan melihat kondisi pasar. Diharapkan tingkat recovery ratenya minimal 50 persen atau lebih.
(nit/)











































