Sumbangan Pemerintah ke Pertumbuhan Ekonomi 'Nihil'

Sumbangan Pemerintah ke Pertumbuhan Ekonomi 'Nihil'

- detikFinance
Kamis, 05 Mei 2011 17:28 WIB
Sumbangan Pemerintah ke Pertumbuhan Ekonomi Nihil
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2011 memang mencapai 6,5% dibanding kuartal I-2010. Namun secara kuartalan pertumbuhan ekonomi hanya 1,5% akibat rendahnya sumbangan pemerintah.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengaku kecewa karena belanja modal pemerintah yang masih memprihatinkan walau berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami perbaikan untuk kuartal I-2011.

Hatta mengatakan, pencapaian pertumbuhan ekonomi kuartal I-2011 sebesar 6,5% sesuai dengan perkiraan banyak pihak yang didorong oleh investasi dan perdagangan internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tidak happy dengan belanja modal anggaran pemerintah. Namun, khusus untuk belanja modal itu tidak maksimal, realisasinya buruk. Meskipun lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Namun belanja modal masih memprihatinkan. Ke depan ini harus menjadi perhatian utama kita," ungkap Hatta di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (5/5/2011).

Berdasar data BPS, pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% year on year dibentuk oleh konsumsi rumah tangga 4,5%, pengeluaran konsumsi pemerintah 3,0%, investasi 7,3%, ekspor 12,3%, dan impor 15,6%.

"Pada tahun kemarin konsumsi pemerintah menyumbang kontraksi, sekarang tumbuh 3% artinya belanja pemerintah kuartal 1 itu masih lebih baik dari kuartal 1 2010," papar Kepala BPS Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya, pagi tadi.

Sementara untuk PDB kuartal I-2011 dibanding kuartal IV-2010 sebesar 1,5% disokong oleh pengeluaran rumah tangga 0,9%, pengeluaran konsumsi pemerintah -46,6%, investasi -3,4%, ekspor -7%, dan impor -3,4%.

"Belanja pemerintah minus (cukup besar) karena biasanya kuartal 4 digenjot pada belajanya. Kuartal 1 belum efektif belanjanya," ujar Rusman.

Selain kecewa dengan belanja pemerintah, Hatta juga menyatakan kekhawatirannya terhadap inflasi. Pasalnya, meskipun sempat mengalami deflasi pada 2 bulan belakangan ini, potensi inflasi masih terus menghantui.

"Ada deflasi dua bulan ini namun kita lihat pada bulan Mei ini, orang memperkirakan ini adalah bulan akhir masa deflasi tapi saya mengharapkan terjadi deflasi pada bulan Mei ini," pungkasnya.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads