Mengawali uraiannya tentang pangan, SBY mengatakan, penduduk dunia diproyeksikan tumbuh pesat dari 7 miliar tahun ini menjadi 9 miliar di tahun 2045. Bangsa-bangsa di muka bumi menghadapi kompetisi untuk memperoleh sumber-sumber penghidupan yang jumlahnya terbatas.
Saat ini pula, lanjut SBY, dunia sedang menghadapi harga pangan dan energi yang sangat fluktuatif dengan kecenderungan terus meningkat. Karena itu negara-negara di ASEAN harus melakukan kerjasama yang nyata dan efektif untuk menjamin ketersediaan pangan rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan secara khusus, yang perlu diperhatikan adalah memformulasikan sistem cadangan pangan di ASEAN, yang juga dapat memungkinkan terbantunya para petani kita untuk keluar dari kemiskinan," sambung SBY di depan sembilan pemimpin negara ASEAN beserta delegasi KTT ASEAN yang hadir dalam kesempatan tersebut.
Tidak kalah pentingnya dengan pangan, menurut SBY, negara-negara ASEAN juga harus mengatasi mengatasi masalah ketahanan energi. ASEAN harus mencari solusi yang inovatif. Sumber-sumber energi baru dan terbarukan, sangat diperlukan untuk meningkatkan keanekaragaman pasokan energi, dan mengurangi konsumsi energi yang berdampak negatif pada lingkungan.
"Selain itu, pemanfaatan energi yang terbarukan, dan implementasi program ASEAN Energy Efficiency and Conservation, dapat mempercepat pembangunan ekonomi dan sosial di negara-negara anggota ASEAN.
SBY mengatakan, ketahanan pangan dan energi perlu di atas bersama-sama, sebab dampaknya buruk bagi kesejahteraan rakyat. Sejarah menunjukkan kenaikan harga pangan dan energi, akan langsung mengakibatkan kenaikan jumlah penduduk yang miskin.
"Sedangkan kita sangat tahu dan merasakan, bahwa untuk menurunkan angka kemiskinan adalah sesuatu yang tidak mudah," ucap SBY.
(irw/dnl)










































