"Tetap didatangkan bulan ini tanggal 19 dan 20," kata Direktur Utama, Sardjono Jhony Tjitrokusumo ketika ditemui di kantor kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Sleatan, Jakarta, Senin (9/5/2011).
Menurut Jhony, kedua pesawat tersebut tetap tidak dilengkapi serifikat Federal Aviasions Administration (FAA) yang dikeluarkan oleh Amerika untuk menerbangkan pesawat. Kedua pesawat tersebut akan menggunakan standar dari pabrik di China dan Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lisensi seharusnya, tambah Jhony, diurus oleh pabrik yang membuat pesawat bukan pengguna pesawat atau yang membeli pesawat tersebut. Sejauh ini, pesawat yang digunakan Merpati tidak bermasalah walau tanpa serifikat FAA.
"Pesawat ini tidak bermasalah, lisensi itu diurus oleh manufaktur pembuat pesawat bukan pengguna," imbuhnya.
Pesawat milik Merpati yang jatuh di Kaimana tersebut didatangkan dari China pada 3 Desember 2010. Pesawat tersebut mulai beroprasi pada 6 Desember 2010 dengan rute Bali-Nusa. Lalu pada 16 Maret 2011 mulai beroperasi ke Papua.
Saat ini, Merpati memiliki 12 pesawat setelah 1 pesawat mengalami kecelakaan kemarin. Bulan ini akan datang lagi 2 pesawat, jadi total pesawat Merpati berjumlah 14.
Dalam kesempatan tersebut, Jhony mengatakan, pemberitaan negatid seputar jatuhnya pesawat tersebut membuat penumpang ketakutan naik pesawat tipe M-60 milik Merpati.
"Beberapa kontrak juga minta dibatalkan dari daerah. Saya belum tahu ada berapanya, tapi jadi merugikan bagi Merpati padahal tak ada masalah sama sekali. Setelah ada kecelakaan, rute masih harus dilayani, kami sudah kirim pesawat ke sana bertipe MA-60," tukas Jhony.
Seperti diketahui, pesawat BUMN aviasi ini jatuh di Teluk Kaimana, Sabtu (7/5/2011). Pesawat MZ-8968 mengangkut 19 penumpang dan 6 orang awak. Sebanyak 17 jenazah telah ditemukan dan berhasil diidentifikasi. Dengan ditemukannya 3 jenazah itu, berarti hingga kini sudah 20 jenazah yang ditemukan.
(ade/dnl)











































