Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR Meutya Hafid dalam rapat dengan Kemenkeu dan Direksi Merpati di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/5/2011).
"Saya baca di Nepali Times bahwa Royal Nepal Airlines tidak senang dengan pesawat baru itu (M-60). Waktu itu mereka ditawarkan pesawat itu buy two get one free. Saya baca di Nepali Times tahun 2005," ujar Meutya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat yang sama, Anggota Komisi XI lainnya Laurens Bahang Dama mengatakan pemerintah harus memberikan pernyataan apakah pesawat ini layak atau tidak.
"Sehingga Merpati yang sedang sakit jangan dibikin tambah sakit. Pemerintah harus beli penjelasan yang benar tentang kelayakan pesawat ini sehingga masyarakat tidak dibingungkan," tutur Laurens.
Menanggapi hal ini, Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, kecepakaan pesawat M-60 di Kaimana, Papua lebih banyak karena masalah operasional.
"Kecelakaan lebih banyak karena operasional, permasalahan landasan. Untuk masalah Nepal saya tidak aware dengan itu. Saya rasa mestinya kita dapat data yang detil dari pabrikan," ucapnya.
Seperti diketahui, Merpati memiliki 15 pesawat tipe M-60 buatan Xi'an Aircraft Industry China bernilai US$ 161 juta. Merpati mendapatkan pesawat ini dari Kementerian Keuangan hasil pinjaman dari Bank Of China.
Pesawat berkapasitas 56 penumpang ini dihargai sekitar US$ 11 juta per unit. Saat ini ada 189 pesawat jenis M-60 produksi Xi'an Aircraft Industry yang digunakan di dunia. Ada 10 negara di dunia yang menggunakan pesawat buatan China ini.
(dnl/dnl)










































