Para Anggota Komisi XI DPR ingin mendengarkan penjelasan dari Direksi Merpati, Kementerian Keuangan, dan juga Kementerian BUMN soal siapa yang menjadi pengambil keputusan pembelian pesawat MA-60 tersebut.
Rapat dilakukan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah China ada kerjasama dengan pemerintah Indonesia antara lain menawarkan pembelian concessional loan kepada pemerintah. Itu untuk pengadaan pesawat MA-60 dari 29 Agustus 2005. Kemudian ada MoU antara PT MNA (Merpati Nusantara Airlines) dengan Xi'an Aircraft Industry tentang rencana pembelian 15 unit pesawat MA-60 pada 24 November tahun 2005," kata Mulia memulai penjelasannya.
Kemudian Mulia melanjutkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan Aircraft Type Certificate (ATC) untuk pesawat MA-60 ini. ATC dari pemerintah dikeluarkan 22 Juni 2003, sehingga secara teknis pesawat ini dinyatakan layak.
"PT Merpati melakukan kontrak pengadaan pada 7 Juni 2006," lanjutnya menjelaskan.
Lalu, penjelasan dari Mulia berlanjut dengan bertahap proses yang pada akhirnya menjurus ke penerusan pinjaman (Subsidiary Loan Agreement/SLA). Setelah penjelasan yang merinci, Mulia menyampaikan terkait penerusan pinjaman tersebut sudah disetujui di Badan Anggaran DPR pada 30 Agustus 2010. Pemerintah dan Badan Anggaran sepakat untuk meneruskan pinjaman (SLA) dan merestrukturisasi Merpati.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Mulia Nasution, Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Aziz yang memimpin rapat lanjutan tersebut menyatakan Komisi XI tidak merasa adanya terusan persetujuan SLA tersebut untuk penerusan pinjaman terkait. Sehingga rapat berangsur-angsur menimbulkan perdebatan.
Sebelumnya, pesawat BUMN aviasi ini jatuh di Teluk Kaimana, Sabtu (7/5/2011). Pesawat MZ-8968 mengangkut 19 penumpang dan 6 orang awak. Sebanyak 20 jenazah telah ditemukan dan berhasil diidentifikasi.
Merpati memiliki 15 pesawat tipe M-60 buatan Xi'an Aircraft Industry China bernilai US$ 161 juta. Merpati mendapatkan pesawat ini dari Kementerian Keuangan hasil pinjaman dari Bank Of China.
Pesawat berkapasitas 56 penumpang ini dihargai sekitar US$ 11 juta per unit. Saat ini ada 189 pesawat jenis M-60 produksi Xi'an Aircraft Industry yang digunakan di dunia. Ada 10 negara di dunia yang menggunakan pesawat buatan China ini.
(nrs/dnl)










































