Tidak Ada Istilah Anggaran 'Jebol' Karena Harga Minyak Tinggi

Tidak Ada Istilah Anggaran 'Jebol' Karena Harga Minyak Tinggi

- detikFinance
Minggu, 15 Mei 2011 17:34 WIB
Jakarta - Walaupun harga minyak terus melambung tinggi pemerintah tidak mau dikatakan anggaran negara 'jebol'. Khususnya untuk tambahan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Demikian disampaikan Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro melalui pesan singkatnya kepada detikFinance, Minggu (15/5/2011).

"Jangan cari sensasi dengan istilah fiskal bobol dan sejenisnya," jawabnya ketika ditanya mengenai dampak fiskal dengan tren kenaikan harga minyak yang menyebabkan harga Pertamax per hari ini tercatat mencapai level Rp 9.250 per liter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Bambang, pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak dan pengaruhnya terhadap volume Premium hingga akhir semester I tahun ini untuk diajukan dalam RAPBN-P 2011.

"Pemerintah terus mencermati volume konsumsi BBM bersubsidi dan pada saatnya akan dilakukan revisi APBN," pungkasnya.

Per hari ini Minggu (15/5/2011) harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax naik Rp 200 menjadi Rp 9.250. Semakin tingginya harga Pertamax membuat bensin beroktan 92 tersebut sepi peminat.

Harga ICP pun terus menunjukkan tren kenaikan dibandingkan pada awal tahun. Pada bulan Januari sebessar USD 97,09 per barel, Februari USD 103,31 per barel, Maret sebesar USD 113,07 per barel, dan April USD 123,36 per barel sehingga rata-rata ICP mencapai USD 109,21 per barel. Level ini jauh dari yang telah ditargetkan pemerintah dalam APBN 2011, yaitu USD 80 per barel.

Namun, di samping kenaikan harga ICP, pemerintah masih tertolong dengan menguatnya nilai tukar rupiah yang tercatat oleh Bank Indonesia sepanjang April lalu mengalami penguatan 1,68% menjadi Rp 8.564/US$. Level ini juga jauh dari perkiraan awal pemerintah dalam APBN 2011 yang tercatat Rp 9.250/US$.

(nia/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads