"Apel di Batu tinggal 25%, banyak yang rusak, itu yang saya amati sendiri," kata salah satu petani apel di Desa Binangun, Bumiaji Batu Malang, Suparji saat ditemui detikFinance, Minggu (15/5/2011).
Ia mengaku tak tahu persis berapa luasan total perkebunan apel Batu saat ini. Namun berdasarkan pengamatannya selama puluhan tahun menggeluti perkebunan apel, sebanyak 75% lahan apel Batu, Malang telah beralih fungsi atau sudah mengalami kerusakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, saat ini ia hanya mengelola 1 hektar pohon apel dengan berjumlah kurang lebih 1.000 pohon. Jumlah ini sudah mengalami penyusutan dari sebelumnya.
Dikatakan Suparji, selain Bumiaji Malang sentra produksi apel juga berada di Nongkojajar. Namun di wilayah tersebut umumnya kondisi perkebunan apel sudah sangat memprihatinkan.
"Di Nongkojajar banyak rusak, sekarang banyak yang pindah ke tebu, jagung manis," jelasnya.
Menurutnya, sebagai petani yang sudah lama berkebun apel, ia bertekad akan bertahan. Ia optimistis bisa tetap eksis karena masih ada harapan di sektor Apel Malang.
"Walaupun banyak pohon apel yang rusak, saya harus bertahan karena langka," ucapnya.
Alasan Suparji sangat sederhana saja, selain bisa menghidupi puluhan tenaga kerja, kelanjutan usaha petani Apel Malang bisa menjadi pertahanan dari beradarnya buah-buah impor termasuk apel impor yang semakin banjir di pasar Tanah Air.
"Petani berat, kalau bisa dibilang enakan pegawai negeri. Petani itu tantangan alam, akhirnya banyak yang nggak bertahan dan beralih ke tanaman lain," katanya.
(hen/qom)











































