Menteri BUMN Mustafa Abubakar mendesak manajemen Merpati memperbaiki sistem kerja atas operasi setiap armada milik mereka. Desakan ini didasarkan atas insiden jatuhnya pesawat MA-60 di Teluk Kalimana, Papua Barat.
"Apa yang kita lakukan, memperbaiki sistem kerja di dalam (internal Merpati) sehingga faktor human error berkurang," kata Mustafa Abubakar, di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (20/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dimana, saat kejadian jarak pandang pilot hanya 2 Km, dari standar yang berlaku 5 Km. Ini terjadi karena hujan lebat yang menyelimuti Teluk Kalimana kala itu. Ketinggian terbang pesawat Merpati saat itu hanya 300 kaki.
"Karena hujan lebat, pilot melakukan manuver namun gagal. Ini awal terjadi karena cuaca dan kemudian human error. Manajemen di-warning (peringatkan). Semua jajaran sampai dengan kru," tuturnya.
Hari ini, manajemen Merpati pun telah menghadap Mustafa untuk mengupdate laporan soal insiden jatuhnya pesawat Merpati. Mustafa meminta agar standar kelayakan terbang Merpati ditingkatkan sehingga tidak ada lagi toleransi atas beberapa faktor yang sebelumnya dianggap kurang penting.
"Kita naikkan standar satu tingkat, meski sebagian besar sudah standar. Semua syarat harus dipenuhi, tidak ada toleransi, full item, armada apapun. Ada faktor (kelayakan terbang) tidak begitu penting, tidak lagi," serunya.
(wep/hen)











































