Dana Subsidi Rp 200 Triliun Lebih Rawan Penyimpangan

Dana Subsidi Rp 200 Triliun Lebih Rawan Penyimpangan

- detikFinance
Jumat, 20 Mei 2011 16:22 WIB
Dana Subsidi Rp 200 Triliun Lebih Rawan Penyimpangan
Jakarta - Pemerintah mulai gerah dengan besarnya dana subsidi yang mencapai Rp 200 triliun lebih. Apalagi dana ini rawan penyimpangan dan sering salah sasaran kepada orang yang tidak membutuhkan.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo meminta pemerintah sama-sama menjaga agar dana subsidi ini jatuh ke orang yang membutuhkan. Subsidi Rp 200 triliun lebih ini adalah untuk pangan dan energi.

"Saya bisa sampaikan, misalkan kemarin saja saya dapat laporan dari Dirjen Bea dan Cukai ada tiga kapal yang menyelundupkan BBM bersubsidi ke luar negeri. Bayangkan kita hidup mensubsidi nggak tahunya ada penyelundupan dibawa ke luar negeri karena negara-negara tetangga kita BBM-nya jauh lebih mahal dibandingkan kita," tutur Agus di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (20/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi banyaknya penyimpangan subsidi tersebut membuat pemerintah berencana menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 10-15% tahun depan.

"Sekarang di tahun 2010 sudah Rp 57 triliun untuk subsidi listrik.jadi bayangkan kalau Rp 57 triliun itu dipakai untuk memperbaiki sekolah-sekolah yang kondisinya rusak atau kita memperbaiki puskesmas-puskesmas. Atau memperbaiki sarana dan prasarana di pedesaan yang jalannya sudah rusak," kata Agus.

Agus memprediksi tahun depan dana subsidi listrik bakal naik dari Rp 57 triliun karena naiknya harga BBM.

"Jadi kita perlu ada kesepakatan untuk bisa mengkonversi subsidi listrik itu dari subsidi umum menjadi subsidi yang terarah. Semata-mata untuk kepentingan masyarakat luas," jelas Agus.

"Kami ingin menyampaikan mari kita kelola subsidi secara lebih baik karena subsidi tahun 2011 dan di tahun 2012 itu ada di kisaran di atas Rp 200 triliun. Dan Rp 200 triliun itu angka yang besar sekali. Jadi kita musti jaga itu," tukas Agus.


(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads