Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro menyatakan tahun depan pemerintah merencanakan defisit anggaran 1,4-1,6% dari PDB. Pemerintah akan menekan defisit agar tak tinggi.
Karena itu kebijakan fiskal ekspansif dengan defisit anggaran 2% PDB, seperti yang diusulkan Fraksi Partai Golkar dalam rapat paripurna hari ini, bisa saja dilakukan jika DPR mengizinkan penarikan bilateral dan pinjaman multilateral dari lembaga donor internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bambang, pembiayaan defisit APBN melalui pinjaman luar negeri sebenarnya jauh lebih murah ketimbang menerbitkan obligasi negara. Namun, penarikan utang luar negeri menjadi isu yang sensitif sehingga tidak menjadi prioritas pembiayaan APBN.
"Pinjaman luar negeri jauh lebih murah (ketimbang penerbitan SUN). Kalau surat utang, mana ada grass period. Ini (pinjaman) kan ada. Tingkat buangnya pun jauh di bawah (obligasi negara)," ujarnya.
Oleh sebab itu, Bambang menyatakan konsep kebijakan fiskal dan strategi pembiayaan APBN 2012 melalui pinjaman luar negeri perlu disepakati dulu bersama DPR. Selain itu, untuk meminimalkan risiko utang, negosiasi dengan lembaga-lembaga donor internasional perlu diperkuat guna meminimalkan biaya utang.
"Makanya semua harus sepakat ini (pembiayaan melalui utang luar negeri) caranya dan memang kami harus bisa meningkatkan bargain dengan lembaga-lembaga itu supaya lebih memerhatikan kedaulatan negara dalam mengelola pinjaman itu," pungkasnya.
(nia/dnl)











































