Sekitar 300 investor China menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi untuk menggarap sejumlah poyek pembangunan energi ramah lingkungan dan infrastruktur, seperti jembatan, jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan bandara di Indonesia.
Seperti dikutip dari siaran pers KBRI Beijing, Kamis (26/5/2011), selain berbentuk investasi asing secara langsung, investor RRT juga berminat merealisir berbagai proyek kerjasama pembangunan di sektor-sektor tersebut dengan memanfaatkan skema Public-Private Partnership (PPP).
Forum Investasi RI-RRT ini diselenggarakan oleh KBRI Beijing bekerjasama dengan Allens, Arthur & Robinson (AAR), perusahaan konsultan hukum berbasis di Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Forum Investasi RI-China yang dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak, juga dihadiri Dubes RI untuk China merangkap Republik Mongolia, Imron Cotan dan sekitar 300 pengusaha ternama dari China, seperti Sinohydro, China Road and Bridge Corporation (CRBC), Gezhouba, CITIC, China National Offshore Oil Company (CNOOC) dan pengusaha RI.
Sejumlah pejabat dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), ESDM, Perindustrian, Bappenas, BKPM, dan Pertamina turut hadir sebagai pembicara. Pembicara lain berasal dari Allens, Arthur & Robinson (AAR), yang memfokuskan pada perspektif yuridis dalam berinvestasi di Indonesia.
Heermanto menyatakan, kerjasama dan investasi RI-China di bidang infrastruktur akan berperan penting dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan memanfaatkan pengalaman, teknologi dan kekuatan keuangan yang dimilikinya, investasi China akan dapat memainkan peran penting dalam merealisir target percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur nasional.
"Indonesia merupakan destinasi investasi yang sangat atraktif dan prospektif bagi para investor China yang berniat memperluas jaringan bisnisnya di dunia internasional," kata Hermanto.
Sementara, Dubes RI mendesak China sebagai mitra strategis Indonesia menambah jumlah investasinya di tanah air, terutama di bidang infrastruktur, transportasi, manufaktur dan energi yang memberikan nilai tambah dan transfer teknologi bagi Indonesia.
Kerjasama investasi China dengan negara lain melalui mekanisme PPP kini sangat menonjol ditempuh para investor, terutama untuk sektor infrastruktur dan energi.
China dikenal sebagai negara yang paling besar mengeluarkan anggaran proyek riset dan pembangunan energi terbarukan dan pada saat yang sama membutuhkan pasokan minyak, gas, dan batubara yang besar untuk menopang program pembangunan nasionalnya. Di 2011, China membutuhkan sekitar 250 juta ton batubara. (ang/dnl)











































