Ricoh diketahui menjadi salah satu korban korban krisis finansial global tahun 2008-2009 serta penguatan yen. Ricoh selama ini juga berjuang keras menghadapi ketatnya kompetisi.
Ini adalah gelombang PHK terbesar pertama dari Ricoh yang kini memiliki lebih dari 100.000 karyawan di berbagai belahan dunia. Demikian dilaporkan harian ekonomi Nikkei dan Dow Jones Newswires seperti dikutip dari AFP, Kamis (26/5/2011). Karyawan Ricoh sebanyak 40.000 di Jepang dan 68.900 di luar Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ricoh sebelumnya mengalami penurunan laba bersih yang tajam dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 100 miliar yen (US$ 1,2 miliar) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2008 menjadi 6,5 miliar yen pada tahun berikutnya.
Dalam rencana bisnis jangka pendeknya, Ricoh mengumumkan rencananya untuk meraup penjualan grup sebesar 2,4 triliun yen di tahun fiskal 2013 yang berakhir pada Maret 2014, dengan melakukan ekspansi di pasar negara berkembang.
Ricoh juga berniat membidik laba operasional 210 miliar yen. Sementara belanja modal akan dipertahankan pada level saat ini yang sebesar 200 miliar yen dalam 3 tahun ke depan.
Saham Ricoh melonjak hingga 7,2% menjadi 911 yen pada awal perdagangan Kamis ini, setelah keluarnya rencana restrukturisasi bisnis tersebut.
"Ricoh memiliki kehadiran global yang kuat, jadi kontrak tenaga kerja mereka lebih longgar dibandingkan perusahaan tradisional Jepang lainnya dan akan lebih mudah bagi mereka untuk memangkas karyawan dalam rangka memangkas biaya," ujar Tatsunori Kawai, chief strategist kabu.com.
(qom/dnl)











































