"Kerjasama dan investasi bersama China dan Indonesia di kawasan transmigrasi ini sangat prospektif. Tenaga kerja yang terlibat pun diperkirakan mencapai 28.300 orang. Oleh karena itu, pemerintah akan memberikan dukungan penuh, terutama masalah perijinan dan membangun infrastruktur dasar," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Sabtu (28/5/2011).
Penandatanganan kerjasama itu dilakukan di Guangzhou, China, hari ini dilakukan oleh Lei Yong Juan dari PT Guandong Agribusiness, sebuah perusahaan asal China dengan Soedomo Margonoto dari PT Pulau Sumbawa Agro, sebuah perusahaan asal Indonesia. Kerjasama itu juga disaksikan oleh Muhaimin dan Gubernur Guandong yang mewakili pemerintah China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenakertrans telah memberikan Ijin Pelaksanaan Transmigrasi (IPT) kepada perusahaan joint venture ini untuk mengembangkan tanaman sisal di kawasan transmigrasi.
Pengembangan tanaman sisal beserta industri pengolahannya ini diperkirakan akan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 3.300 orang. Tenaga kerja tersebut merupakan transmigran dan penduduk sekitar di kawasan transmigrasi Tongo, Kabupaten Sumbawa Barat.
Mereka adalah bagian dari penduduk yang tersebar di 5 UPT, dengan jumlah transmigran sebanyak 1.475 KK (5.900 jiwa) yang ditempatkan tahun 1994 sampai dengan tahun 2010.
Cak Imin optimistis proyek ini akan berjalan sesuai dengan rencana dan mampu meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitar. Apalagi, investasi ini didukung oleh kondisi lokasi yang dicadangkan, sumberdaya alam dan manusia, serta dukungan masyarakat dan pemerintah daerah
"Kita berharap kerjasama ini mampu meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan penduduk sekitarnya. Selain itu, investasi di kawasan transmigrasi pun diharapkan dapat mempercepatkan proses pembangunan di kawasan transmigrasi," tambah Muhaimin.
Pada tahap kerjasama berikutnya akan dilakukan dengan mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, dan perkebunan tebu di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.
Untuk proyek kelapa sawit di Maluku Utara, pemerintah kabupaten telah mencadangkan lokasi seluas 21.500 ha. Proyek ini masih dalam proses penilaian proposal dalam rangka penerbitan ijin pelaksanaan transmigrasi (IPT).
Berdasarkan proposal yang diajukan setidaknya akan dilakukan investasi sekitar Rp 200 miliar dan mampu menyerap tenaga kerja baru sekitar 15.000 orang.
Adapun proyek perkebunan tebu dan industri pengolahannya di Bener Meriah Provinsi Aceh, pemerintah kabupaten telah menyetujui ijin lokasi seluas 37.000 hektar. Proyek ini sedang dalam tahap studi kelayakan oleh Kapal Api Group.
Untuk membangun perkebunan tebu seluas 22.000 ha, beserta industri pengolahannya akan menyerap investasi sekitar Rp 1,2 triliun dan penciptaan tenaga kerja sebanyak 10.000 orang.
Pada proyek Bener Meriah ini akan meliputi kawasan transmigrasi Pintu Rime Gayo yang berpenduduk 3.243 KK/ 12.322 jiwa, serta akan menjadi pendukung tumbuhnya pusat produksi baru yang berkembang menjadi pusat perekonomian baru, yang pada akhirnya menjadi kawasan perkotaan baru.
Pelaksanaan proyek-proyek tersebut akan menjadi proyek terpadu melengkapi kerjasama sebelumnya dalam penyediaan gula dari proyek Bener Meriah untuk industri kopi, dan penyediaan minyak goreng dan butir jagung dari proyek Halmahera.
Guandong Agribusiness adalah badan usaha milik negara (BUMN) China yang akan membawa teknologi dan pasar luar negeri. Perusahaan ini berkedudukan di Guangzhou RRC berdiri sejak tahun 1951.
Guandong memiliki kebun karet, tebu, sisal, produk perkebunan, buah-buhan, dan budidaya perikanan dengan omset sekitar 15 miliar Yuan atau sekitar Rp 21 triliun per tahun .
Sedangkan Sumbawa Agro adalah anak perusahaan Group Kapal Api yang akan menyiapkan manajemen dan pasar dalam negeri. Sebagai anak perusahaan Group Kapal Api yang berkedudukan di Surabaya Indonesia.
(ang/ang)











































