Kemenkeu Yakin Terjadi Deflasi di Mei

Kemenkeu Yakin Terjadi Deflasi di Mei

- detikFinance
Selasa, 31 Mei 2011 17:31 WIB
Kemenkeu Yakin Terjadi Deflasi di Mei
Jakarta - Kementerian Keuangan optimistis potensi deflasi masih terjadi di Mei. Ini karena masih ditunjang penurunan harga beberapa bahan makanan selama Mei.

"Deflasi mendekati nol, tapi kecenderungannya ke deflasi," ujar Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (31/5/2011).

Menurut Bambang, potensi deflasi tersebut ditunjang dari masih berjalannya panen makanan serta didorong penurunan harga-harga yang bergejolak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Panen masih berlanjut, saya kira belum selesai. Deflasi itu karena volatile food (harga makanan), dan inflasi inti pun positif, tapi saya nggak tahu berapa. Untuk inflasi inti, Bank Indonesia yang tahu," ujarnya.

Dengan demikian, Bambang memperkirakan inflasi year on year di Mei berada pada kisaran 5,8-5,9%. "Year on year bisa 5,8-5,9%," pungkasnya.

Sebelumnya, hal senada juga disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan yang mengatakan meski mulai ditekan kenaikan harga beras, BPS memperkirakan pada bulan Mei masih berpotensi terjadinya deflasi.

Menurutnya, harga beras mulai menunjukkan tren kenaikan. Begitu juga dengan gula yang memberikan tekanan terhadap inflasi.

"Sampai minggu terakhir ini beras mulai agak naik sedikit tapi tidak signifikan, itu beras dan gula, itu untuk bahan pokok, kalau yang lain masih konsisten turun terus. Bulan Mei akan ada sumbangan inflasi dari beras dan gula pasir," ujar Rusman.

Kenaikan harga bensin pertamax dan harga emas perhiasan juga memberikan sumbangan inflasi, tetapi tidak signfikan mengingat porsi kedua komoditas tersebut yang kecil dalam perhitungan inflasi.

"Yang perlu kita lihat mungkin ada sedikit dari pertamax memang sudah ada naik kan. Tapi karena bobotnya kecil sekali apalagi sekarang migrasi lagi kan jadi nggak terlalu keras juga di dalam perhitungan inflasi kita, kemudian perhiasan juga kurang termasuk tapi masih cukup tinggi," ujarnya.

Namun, Rusman menilai potensi deflasi masih sangat besar meskipun tidak akan lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Hal tersebut ditopang harga pangan lainnya yang cenderung turun.

"Kesimpulan akhirnya, potensi deflasi masih sangat besar walaupun mungkin lebih kecil potensinya dibanding bulan lalu, tapi potensinya ada. Cabai merah saja harganya terjun bebas. Yang jelaskan kalau kemarin 0,31% sebelumnnya 0,32% kalau sekarang kan di bawah itu, tapi saya belum bisa pastikan karena belum saya hitung," pungkasnya.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads