Strategi Pemasaran 'Kirim Peti Mati' Bisa Menuai Kecaman

Strategi Pemasaran 'Kirim Peti Mati' Bisa Menuai Kecaman

- detikFinance
Senin, 06 Jun 2011 13:09 WIB
Strategi Pemasaran Kirim Peti Mati Bisa Menuai Kecaman
Jakarta - Pengiriman peti mati oleh Buzz & Co dalam rangka promosi dinilai sebagai sebuah strategi pemasaran yang berniat 'lucu' namun menjadi tidak lucu. Pengiriman peti mati itu hanya akan menimbulkan rasa teror yang pada akhirnya bisa menimbulkan kecaman.

"Di Indonesia yang seperti ini, konteksnya orang lagi takut terorisme, ancaman, strategi itu menjadi jokes yang tidak lucu," ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Rhenald Kasali dalam perbincangannya dengan detikFinance, Senin (6/6/2011).

Rhenald melihat strategi yang diambil oleh CEO perusahaan Buzz & Co, Sumardy Ma itu sebagai strategi yang meniru gejala globalisasi yang sifatnya bombastis oleh low cost company. Trik pemasaran bombastis sebelumnya, menurut Rhenald pernah dilakukan oleh maskapai penerbangan, Ryan Air. Ketika itu, maskapai tersebut mengirimkan panser yang moncongnya diarahkan ke British Airways.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dia hanya ingin menunjukkan British Airways pantas untuk dibom karena telah melakukan penjualan tiket yang mahal untuk konsumen," ungkapnya.

Menurut Rhenald, strategi pemasaran yang bombastis itu dilakukan karena mereka tak punya bujet promosi. Dengan pemasaran yang bombastis itu, mereka akan menjadi bahan omongan dan diliput media yang pada akhirnya mendapatkan promosi gratis.

"Tapi marketing itu harus melihat konteks. Di Indonesia yang seperti ini, orang sedang takut ancaman, maka strategi itu menjadi jokes yang tidak lucu. Orang yang tahu marketing akan tersenyum, tapi yang bagi yang tidak akan menjadi tidak lucu karena bisa menimbulkan rasa was-was," tambahnya.

Rhenald menambahkan, strategi pemasaran dengan mengirimkan peti mati ke kantor-kantor media itu justru bisa menimbulkan cacian dan bukannya pujian. "Mereka mengambil langkah berisiko tinggi, karena bisa langsung menimbulkan rasa tidak senang," ujarnya.

Perasaan tidak senang bisa muncul karena rasa takut masyarakat dan juga grup media kini sedang tinggi. Ini mengingat beberapa waktu lalu pernah ada ancaman bom seperti ke kantor majalah Tempo dan kantor berita 68H. "Tekanan media massa kan cukup besar, kalau mereka menerapkan, harus hati-hati," ujarnya.

Si pengirim peti mati itu juga bisa dijerat dengan UU Terorisme karena bisa aksinya malah menimbulkan perasaan terteror. "Harusnya hati-hati karena menimbulkan ketakutan," ujarnya.

Ia berharap sang pengirim peti mati segera melakukan klarifikasi agar masyarakat yang merasa terteror tidak marah.

Seperti diketahui, sejumlah kantor media massa dan operator seluler mendapat kiriman peti mati. Pelakunya adalah CEO perusahaan Buzz & Co, Sumardy Ma. Pakar marketing ini mengaku mengirim peti mati itu berdasarkan niat baik melakukan contoh kampanye pemasaran yang menarik.

"Jadi sebenarnya mulai hari ini kita launching buku 'Rest in Peace Advertising Killed by Word Mouth Agency," kata Sumardy saat dikonfirmasi detikcom, Senin (6/6/2011). Sumardy menyebut perusahaannya adalah agensi Word of Mouth Marketing.

Sumardy mengaku pengiriman peti mati ini selain dalam rangka meluncurkan buku juga meluncurkan perusahaan marketingnya. Pagi ini Sumardy dan tim-nya merancang pengiriman ke 100 orang.
(qom/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads