Menurut Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso, stok beras di gudang perseroan sekitar 1,7 juta ton. Dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia, ia mengaku pasokan aman dalam enam bulan ke depan.
"Juni sedang ada kecenderungan (harga beras) naik. Ini biasa. Belum akan operasi pasar. Sejauh ini masih wajar. Relatif masih cukup," terang Sutarto di Jakarta, Senin (6/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini siklus, apalagi di awal tahun, Januari, Februari kurang," ucapnya.
Ia menambahkan, harga beras yang naik murni karena pasokan yang terganggu. Bulog pun tidak bisa berbuat maksimal dalam pengendalian harga beras karena perseroan hanya mampu menyediakan beras 10% dari kebutuhan masyarakat. Selebihnya, beras disediakan para pedagang beras lainnya.
"Kalau suplai terganggu, harga pasti naik. Otomatis pengadaan Bulog terganggu, karena harga tinggi. Kalau makin harga (beras) jatuh maka otomatis stok Bulog semakin tinggi," ucapnya.
Ada beberapa indikator dalam menentukan tingkat pasokan, dan berujung pada harga beras. Diantaranya luas tanam padi, potensi gangguan hama, penyerapan bibit unggul serta ketersediaan pupuk yang cukup.
"Kalau semua baik indikatornya, logika produksi baik. Bulog tidak boleh menaikkan harga," paparnya.
"Kalau 90% (pengadaan beras non Bulog) terganggu maka (harga) tidak stabil. Pasar itu hitung 4 bulan ke depan," imbuh Sutarto.
(wep/ang)










































