Mantan Wapres Jusuf Kalla terus mempertanyakan soal berapa sebenarnya kredit dari China kepada pemerintah Indonesia untuk pembelian 15 pesawat MA-60 Merpati. Ia mencatat terjadi keganjilan angka kredit pembelian pesawat oleh Merpati yang harus diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yaitu apakah US$ 168 juta atau US$ 232 juta.
"Persoalannya sebenarnya berapa sih yang dikontrak. Itu pertanyaanya, nggak ada yang tahu baranganya, dua harga yang berbeda. Kalau anda tanya Jhony (Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines Sardjono Jhony Tjitrokusumo) selalu mengatakan US$ 11,2 juta per unit, US$ 168 juta (total), coba cek utangnya pemerintah," kata JK saat ditemui di kediamannya Jl Brawijaya, Jakarta, Senin malam (6/6/2011)
Menurutnya semenjak ia setuju dengan pembelian MA-60 dengan berbagai syarat, JK memutuskan agar plafon kredit US$ 232 juta dari China, agar realisasi pengadaanya dikurangi dengan menghapus komponen biaya simulator, sparepart, pelatihan pilot dan lainnya. Setidaknya biaya-biaya itu yang ia ketahui yaitu simulator US$ 15 juta, pelatihan pilot US$ 15 juta, sparepart US$ 20 juta dengan total US$ 50 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berkali-kali mempertanyakan realisasi dari pengadaan simulator, termasuk sparepart MA-60, bahkan soal dana pelatihan jumlah pilot Merpati.
"Pertanyaannya mana simulator itu, pelatihan pilot, menurut dirut Merpati 77 orang, maka pelatihan Rp 2 miliar satu orang," katanya.
Selain itu, JK juga mencatat soal keganjilan harga simulator MA-60 yang mencapai US$ 15 juta. Padahal kata dia, biasanya harga simulator sebuah pesawat hanya separuh dari harga pesawatnya artinya harus dibawah US$ 11,2 juta.
"Masak ada harga simulator lebih mahal dari pesawat," katanya.
"Coba tanya Merpati, mana sparepart itu, mana simulator itu, mana pelatihan pilot itu," tanya JK.
(hen/ang)











































