Pasokan Daging Sapi Saat Lebaran Terancam

Pasokan Daging Sapi Saat Lebaran Terancam

- detikFinance
Rabu, 08 Jun 2011 11:53 WIB
Pasokan Daging Sapi Saat Lebaran Terancam
Jakarta - Para importir daging beku mewanti-wanti penghentian ekspor sapi dari Australia akan berimbas pada suplai kebutuhan daging saat Lebaran (Juli-Agustus 2011). Pemerintah harus bertindak cepat untuk memastikan apakah akan ada penambahan kuota impor daging sapi dari saat ini hanya 72.000 ton di 2011.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring mengatakan sampai saat ini ia dan anggotanya hingga semester I-2011 masih mendapat kuota impor 36.000 ton atau total setahun 72.000 ton.

"Kita belum tahu, kita masih menunggu, kita lihat dulu, kami banyak menunggu dulu. Ini mau dekat lebaran, kalau mau ditambah, agar izinnya dikeluarkan.
Ini kan menteri perdagangan (pemberi izin baru), persyaratannya, kalau nggak segera, mau dekat puasa, paling tidak ada waktu sebulan sebelumnya, harus masuk stok masuk," katanya kepada detikFinance, Rabu (8/6/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengestimasi jika memang pemerintah akan menambah kuota impor daging, paling tidak harus ada izin tambahan impor pada pekan depan. Ini untuk memperhitungkan waktu pemesanan daging hingga sampai waktu pengiriman daging untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan puasa dan lebaran.

Thomas menjelaskan dalam keadaan normal untuk mengantisipasi kebutuhan lebaran, kebutuhan daging impor masih harus ditambah hingga 8000-10.000 ton daging beku. Angka itu belum memperhitungkan adanya penghentian ekspor sapi bakalan dari Australia.

"Harus dihitung ulang semua nanti baru diperhitungkan, kalau pemerintah mau mengganti dengan daging," katanya

Dikatakannya ia membantah adanya penghentian ekspor sapi bakalan dari Australia justru akan menguntungkan para importir daging sapi di dalam negeri. Justru menurut Thomas, kejadian ini bisa memberikan hikmah agar pemerintah memperbaiki sistem pemotongan sapi di rumah potong hewan (RPH) yang ada di Indonesia.

"Jangan bilang diuntungkan, kita tak merekayasa," katanya.


(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads