Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring mengatakan sampai saat ini ia dan anggotanya hingga semester I-2011 masih mendapat kuota impor 36.000 ton atau total setahun 72.000 ton.
"Kita belum tahu, kita masih menunggu, kita lihat dulu, kami banyak menunggu dulu. Ini mau dekat lebaran, kalau mau ditambah, agar izinnya dikeluarkan.
Ini kan menteri perdagangan (pemberi izin baru), persyaratannya, kalau nggak segera, mau dekat puasa, paling tidak ada waktu sebulan sebelumnya, harus masuk stok masuk," katanya kepada detikFinance, Rabu (8/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas menjelaskan dalam keadaan normal untuk mengantisipasi kebutuhan lebaran, kebutuhan daging impor masih harus ditambah hingga 8000-10.000 ton daging beku. Angka itu belum memperhitungkan adanya penghentian ekspor sapi bakalan dari Australia.
"Harus dihitung ulang semua nanti baru diperhitungkan, kalau pemerintah mau mengganti dengan daging," katanya
Dikatakannya ia membantah adanya penghentian ekspor sapi bakalan dari Australia justru akan menguntungkan para importir daging sapi di dalam negeri. Justru menurut Thomas, kejadian ini bisa memberikan hikmah agar pemerintah memperbaiki sistem pemotongan sapi di rumah potong hewan (RPH) yang ada di Indonesia.
"Jangan bilang diuntungkan, kita tak merekayasa," katanya.
(hen/dnl)











































