Para Spekulan Mulai Mainkan Harga Sapi

Para Spekulan Mulai Mainkan Harga Sapi

- detikFinance
Rabu, 08 Jun 2011 18:49 WIB
Para Spekulan Mulai Mainkan Harga Sapi
Jakarta - Para spekulan diduga mulai bermain di air keruh pasca penghentian ekspor sapi Australia ke Indonesia. Ada dugaan importir sapi diam-diam menahan stok sapinya kemudian saat harga naik mereka mulai 'melepas' ke Rumah Potong Hewan (RPH) untuk mendapatkan harga yang tinggi.

Wakil Ketua DPD Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Sumatera Utara Elianor Sembiring mengatakan dalam kasus di Sumatera Utara, ia melihat ada fenomena para importir di wilayah itu sengaja menahan stok sapinya ketika kisruh rencana penghentian sapi dari Australia. Kemudian saat ini ada diantara mereka diam-diam mengirim sapinya ke RPH yang sebelumnya masuk dalam 12 RPH dilarang oleh Australia.

"Hari ini saya mengamati menyidik, ada satu yang jadi otaknya. Sebelumnya katanya nggak bisa keluar (sapi), tapi hari ini ternyata dua truk keluar dari tempat dia, dibawa ke suatu tempat saya ikuti, ini akan dibawa di RPH Zidin," katanya kepada detikFinance, Rabu (8/6/2011)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menduga fenomena ini sebagai cerminan permainan importir yang memainkan harga sapi untuk kepentingan mendapat harga yang bagus.
Bahkan lebih jauh lagi, sebelumnya ada keengganan para importir itu untuk memberikan suplai sapi ke RPH milik pemerintah di Medan karena kasus kekerasan sapi.

"Ini pekerjaan bukan pemerintah Australia, ini mafia daging internal importir daging (sapi) di dalam negeri. Tujuannya merusak reputasi RPH pemerintah," serunya.

Menurut dia, dalam kasus kepergoknya 2 truk yang dikeluarkan diam-diam oleh importir sapi Australia hanyalah salah satu contoh perbuatan spekulasi. Ia menghitung jika satu truk berisi 18 sapi maka dua truk bisa mencapai 36 ekor sapi.

Selain itu, Elianor mencermati sikap pemerintah pasca penghentian ekspor sapi Australia terkesan pasrah. Misalnya tidak mengantisipasi dampak penghentian ekspor sapi dari sisi suplai dan harga sapi di dalam negeri.

"Saya lihat pemerintah pasrah saja, ayo kita bentuk pengawas rumah potong," ucapnya menirukan.

Ia menyarankan dengan kondisi pasokan sapi lokal yang belum bisa dipastikan, sebaiknya pemerintah mengambil langkah ekstrem dengan mengambil suplai sapi dari India. Pemerintah bisa menyiapkan pusat karantina untuk memastikan sapi-sapi India tersebut bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK).

Meskipun ia mengakui sapi-sapi atau daging dari India perlu ditingkatkan kualitasnya dengan perjanjian antara kedua negara. Opsi impor sapi dari India bisa diambil karena murah dan dekat, meski selama ini Negeri Jiran Malaysia mengimpor daging sapi atau daging India untuk kepentingan umpan para hewan kebun binatang.

"Kita cari alternatif lain, tapi kalau alternatifnya Selandia Baru, saya melihat masih kongsinya Australia, 11 dan 12 (sama saja)," katanya.
(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads