Anggota DPR: Stop Kirim Sapi ke RI, Australia Lakukan Blunder

Anggota DPR: Stop Kirim Sapi ke RI, Australia Lakukan Blunder

- detikFinance
Kamis, 09 Jun 2011 17:44 WIB
Anggota DPR: Stop Kirim Sapi ke RI, Australia Lakukan Blunder
Jakarta - Indonesia jangan khawatir dengan kebijakan penghentian sementara ekspor sapi hidup Australia ke Indonesia. Karena justru Australia yang merugi karena penghentian ekspor ini.

Anggota Komisi IV DPR Nabiel Almusawa mengatakan, penghentian ekspor sapi hidup dari Australia harus dijadikan tantangan untuk mencapai swasembada sapi.

"Swasembada daging sapi di 2011 bukan tidak mungkin. Jadi untuk swasembada daging sapi tidak usah menunggu sampai 2014 sebagaimana diprogramkan oleh Kementerian Pertanian”, papar Nabiel dalam siaran pers, Kamis (9/6/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nabiel merasa yakin Indonesia bisa dengan instan melakukan swasembada sapi di tahun ini. Menurutnya siapapun kalau kepepet karena dipaksa oleh suatu kondisi, biasanya mengeluarkan segenap kreativitas untuk mendapatkan solusi dalam mengatasi permasalahannya.

"Sekarang ini kita dihadapkan pada kondisi di mana stok daging sapi akan kurang karena moratorium ekspor tadi. Kita mesti bekerja keras mengerahkan segenap kreativitas untuk memenuhi kekurangan tersebut dari negeri sendiri. Saya yakin, jika bersungguh-sungguh kita akan berhasil," tutur Nabiel yakin.

Jika Indonesia berhasil melakukan swasembada tahun ini maka akan berdampak pada para peternak di Australia. Kerugian para peternak Australia akibat kehilangan pasar Indonesia, bukan hanya dalam 6 bulan tetapi lebih dari itu.

"Dengan demikian moratorium ekspor sapi hidup ke Indonesia merupakan kebijakan blunder Pemerintah Australia. Kebijakan yang merugikan warganya sendiri," tandasnya.

Untuk merealisasikan swasembada dalam waktu dekat memang tidak mudah. Upaya menuju swasembada ini menurut Nabiel perlu diiringi kesediaan mengurangi konsumsi daging sapi, setidaknya untuk sementara.Β 

Kepada mereka yang biasa mengkonsumsi daging dalam porsi banyak diimbau untuk mengurangi atau mengalihkan ke jenis pangan hewani lain. Kebutuhan terhadap protein hewani tidak mesti dipenuhi oleh daging sapi. Bisa diganti misalnya dengan ayam, bebek atau dengan memperbanyak konsumsi ikan.

"Kita memiliki beragam jenis substitusinya. Masyarakat bisa memilih ikan, bebek, ayam, kelinci dan sebagainya yang sesuai dengan seleranya," katanya.

Dengan demikian, tambahnya, seiring dengan upaya pencapaian swasembada daging sapi, maka produksi dan industri ayam, bebek, serta ikan juga akan ikut bergairah.

Pemerintah Australia telah memutuskan untuk menghentikan semua ekspor ternak hidup ke Indonesia selama enam bulan. Langkah ini diambil menyusul kemarahan publik setelah menyaksikan video penganiayaan sapi di salah satu tempat jagal di Indonesia.

Terkait penganiayaan sapi di tempat jagal ini, menurut Nabiel, perlu diselidiki terlebih dahulu kebenarannya. "Bisa saja ini rekayasa oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan rencana swasembada daging Indonesia," ucapnya.

"Namun bila benar terjadi demikian, maka kita harus introspeksi dan berterimakasih dengan peringatan ini. Ke depan, pengawasan terhadap semua tempat pemotongan hewan di Indonesia harus lebih diperketat dan harus dilakukan standarisasi RPH (tumah potong hewan) sesuai dengan standar yang berlaku," pungkas Nabiel.


(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads