Direktur Statistik Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Badan Pusat Statistik (BPS) Nyoto Widodo mengatakan program sensus sapi dan kerbau oleh BPS telah disiapkan pemerintah sebelum adanya kasus penghentian sementara ekspor sapi oleh Australia. Sensus ini sangat membantu dan bertepatan dengan polemik penghentian ekspor sapi tersebut.
"Polemik ekspor sapi tidak bisa langsung dikaitkan dengan sensus sapi, ini dilaksanakan dalam rangka program swasembada daging tahun 2014. Memang dari data itu bisa dimanfaatkan, tapi soal nantinya mau ekspor dan impor itu bukan kewenangan BPS itu sepenuhnya kementerian pertanian," katanya kepada detikFinance, Jumat (10/6/2011)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil perhitungan sementara memang diharapkan akhir Juli sudah, tapi itu baru diketahui jumlah populasinya saja," ujarnya.
Ia mengatakan selama ini pemerintah selalu berpegangan bahwa jumlah populasi di Indonesia mencapai 12,6 juta ekor. Angka itu akan dipastikan jumlahnya secara akurat setelah sensus sapi selesai dilakukan.
"Ini sangat membantu bisa menyelesaikan persoalan tadi (suspend sapi Australia), kalau populasi mencukupi why not. Ini memang momennya pas. Namun secara tujuan sensus ini untuk mendukung program swasembada sapi," tegas Nyoto.
Seperti diketahui selama ini dari kebutuhan daging sapi di Tanah Air sebanyak 75% sudah dipenuhi dari sapi lokal sementara sisanya masih impor. Tahun lalu jumlah impor daging sapi menembus di atas 110.000 ton meski tahun ini hanya dibatasi hanya 72.000 ton.
Sementara jumlah impor sapi bakalan (sapi bobot di bawah 350 Kg) rata-rata per tahun bisa mencapai 500-600.000 ekor termasuk dari Australia.
(hen/dnl)











































