Boediono Minta Proses Izin Usaha Pengusaha Baru Dipermudah

Boediono Minta Proses Izin Usaha Pengusaha Baru Dipermudah

- detikFinance
Rabu, 15 Jun 2011 12:19 WIB
Boediono Minta Proses Izin Usaha Pengusaha Baru Dipermudah
Bandung - Wakil Presiden Boediono meminta kepada seluruh pemerintah daerah untuk memberikan kemudahan izin usaha bagi pengusaha baru atau pemula. Penanganan perizinan bagi pengusaha pemulai dengan yang sudah mapan harus dibedakan

"Tugas pemerintah untuk mendukung program yang sistematis, bagi mereka yang baru memulai, masalah perizinan, apakah biayanya. Untuk meringankan, saya juga menghimbau kepada bapak gubernur," kata Boediono saat memberikan sambutan di acara HUT ke-39 Hipmi dan deklarasi HIPMI Perguruan Tinggi di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (15/6/2011).

Mantan menko perekonomian ini menegaskan, pemerintah mendukung semua kegiatan yang berkaitan menumbuhkan wirausaha baru di Indonesia. Wirausaha di Indonesia dari sisi kuantitas (0,18% penduduk) masih minim sehingga harus ditingkatkan termasuk kualitasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang telah terjadi upaya sporadis, tetapi yang sistematis memang harus dikembangkan bersama-sama. Sumber dari wirausaha itu dari mana, dari para mahasiswa, juga siswa SMA. Mulai dari pembentukan sikap, kiat-kiat dasar bagi wirausahawan yang akan berhasil," katanya.

Boediono juga mendorong pelaksanaan mata pelajaran wirausaha bagi mahasiswa yang telah masuk kurikulum kampus di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Ia telah meminta kepada menteri pendidikan nasional agar kurikulum wirausaha dimasukan ke seluruh kurikulum kampus.

"Saya minta kepada mendiknas untuk dikembangkan di semua universitas," serunya.

Ia juga menegaskan peranan pengusaha yang sudah mapan untuk membantu para pengusaha baru termasuk mahasiswa. Pengusaha-pengusaha mapan ini menjembatani mahasiswa dan siswa untuk memberikan pengalaman praktis saat memulai usaha seperti yang telah dilakukan oleh HIPMI.

"Saya tak akan stop pada HIPMI, kepada pengusaha yang sudah mapan saya himbau untuk mengulurkan tangan. Rasa kewajiban bagi yang mapan untuk darmawan tidak harus dalam bentuk uang tunai. Tapi sesuatu yang berharga (mentoring)," serunya.

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads