Demikian disampaikan Kepala BPS Rusman Heriawan saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (15/6/2011).
"Baru 64% atau 7 juta, tapi itu tidak berbanding linear (lurus), jadi tidak bisa dihitung 64% itu 7 juta tandanya 100% jadi sekian. Karena identity dari sapi di daerah berbeda-beda," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di Papua juga ada, Papua Barat, prospek peternakan sapi. Yang potensional kan NTT, tapi di Jawa cukup banyak juga, di Jawa Timur," jelasnya.
Rusman menilai pencapaian jumlah tersebut sudah termasuk bagus. Dalam waktu kurang dari 2 bulan, jumlah sapi yang teridentifikasi sudah melebihi 50%.
"Jumlah 64% itu belum sampai Juni, targetnya akhir Juni ini berarti lumayan, ini kan tanggal 15, tandanya lebih dari 50%," ujarnya.
Namun, Rusman mengimbau hal ini jangan dikaitkan dengan swasembada sapi. Pasalnya, ada kebijakan yang akan ditentukan pemerintah setelah mengetahui pemetaan sapi di tanah air.
"Sensus ini guna mengetahui berapa kekuatan sapi kita, baik yang muda berapa, sehingga ada proyeksi ke depan. Jangankan ekspor, boro-boro, buat kalian saja belum tentu cukup," pungkasnya.
(nia/dnl)
