Pangan Dunia Harus Naik 70% Cegah Krisis Makanan

Pangan Dunia Harus Naik 70% Cegah Krisis Makanan

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 23 Jun 2011 13:32 WIB
Pangan Dunia Harus Naik 70% Cegah Krisis Makanan
Jakarta -

Produksi pangan dunia diproyeksikan harus bertambah hingga 70% selama 30 tahun ke depan untuk mengimbangi pertambahan penduduk dunia. Faktanya saat ini pertumbuhan pangan dunia per tahunnya hanya 1,7%.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan pertemuan menteri-menteri pertanian negara G20 di Paris 22-23 Juni 2011 membahas masalah tersebut.

"Isu utama yang dibahas adalah food security, sustainability, and farmers income. Tantangan utama yang dihadapi, pertambahan penduduk, dimana pangan harus bertambah minimal 70% dalam 30 tahun kedepan padahal sekarang laju pertumbuhannya hanya sekitar 1,7%," katanya kepada detikFinance, Kamis (23/6/2011)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal kata Bayu, saat ini dunia tengah dihadapkan oleh iklim yang tidak pasti, volatilitas harga. Berdasarkan perhitungan jika harga pangan naik 10% maka kemiskinan akan bertambah 1% atau 70 juta orang di seluruh dunia.

"Permasalahan utama yang harus dipecahkan adalah peningkatan investasi signifikan untuk pangan, pertanian, dan pedesaan, terutama unt riset plus pengembangan dan peningkatan produksi, policy coherance antar negara dan respon cepat bersama sekaligus safety nett apabila situasi buruk terjadi," jelas Bayu.

Bayu menjelaskan pertemuan di Paris 22-23 Juni menyepakati prinsip-prinsip tersebut. Selain itu disepakati strategi dasar untuk meningkatan inovasi, riset dan pengembangan, Policy coherence, dan Public private partnership.

"Pertemuan Paris juga mensepakati beberapa hal kongkrit, termasuk peningkatan kegiatan penelitian diberbagai bidang. Usul Indonesia untuk dikembangkan Regional R+D Network untuk padi di Asia Timur+Tenggara dengan IRRI + dukungan IFPRI sebagai 'hub' mendapat dukungan penuh, termasuk untuk pengembangan GM seed," jelas Bayu.

Dikatakannya pada pertemuan itu, inisiatif Indonesia terkait Asean Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) dan WEF Partnership on Indonesia Sustainable mendapat dukungan. Indonesia juga, lanjut Bayu, mendukung ketentuan tidak melarang ekspor untuk kepentingan humanitarian aid, dan pengembangan sistem informasi pasar pangan, terutama melalui Global Agro Geo-Monitoring Initiative.

"Ini adalah yang pertama, dan untuk yang pertama pula pangan dan pertanian menjadi isu utama dalam pembahasan negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Total negara-negara G20 mencakup sekitar 50% penduduk dunia serta memproduksi dan memperdagangkan 80% dari pangan dunia," ujar Bayu.

(hen/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads