Seperti diketahui, Australia telah menghentikan ekspor sapi ke Indonesia setelah munculnya video yang menunjukkan kebrutalan proses pemotongan sapi. Padahal selama ini ekspor sapi ke Indonesia cukup signifikan atau sekitar seperlima dari total kebutuhan Indonesia.
Larangan tersebut tentu saja memukul industri peternakan sapi Indonesia, yang mengklaim nilai kerugian perdagangan sapi hingga AUD 1 miliar. Cadangan dan nilai lahan peternak juga langsung merosot karena kini Australia 'banjir' stok sapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin menekankan paket bantuan jangka pendek ini. Hal terbaik yang kita lakukan untuk industri adalah mengembalikan perdagangan dengan Indonesia berbarengan dengan penekanan masalah kesejahteraan hewan dan kita bekerja keras untuk itu," ujar PM Gillard seperti dikutip dari AFP, Kamis (30/6/2011).
Gillard menambahkan, penghentian sementara ekspor sapi ke Indonesia secara jelas merupakan kebijakan yang benar untuk menjamin perdagangannya memiliki masa depan yang berkesinambungan tampa adanya penundaan berkaitan dengan masalah kekejaman.
"Hal terburuk yang dapat terjadi untuk industri adalah kami belum memecahkan masalah kesejahteraan hewan sekarang dan dalam 2 tahun, 4 tahun, ada masalah lain jadi terus ada gangguan perdagangan," tambahnya.
Ia menekankan, tidak ada seorangpun menginginkan penghentian perdagangan yang sudah berlangsung selama 4 pekan ini berlangsung lebih lama lagi, namun ia tidak bisa memastikan kapan larangan ekspor itu bisa dicabut.
Seperti diketahui penayangan video kekerasan sapi di beberapa RPH di Indonesia yang ditayangkan oleh TV ABC 30 Mei 2011 lalu berujung pada penghentian ekspor sapi Australia ke Indonesia selama 6 bulan. Pemerintah Australia sepakat mengirim tim independen bersama tim dari Indonesia untuk memverifikasi RPH yang ada di Indonesia.
(qom/hen)











































