BI : Pertumbuhan Ekonomi 6,5% Bisa Munculkan 'Overheating'

BI : Pertumbuhan Ekonomi 6,5% Bisa Munculkan 'Overheating'

- detikFinance
Jumat, 01 Jul 2011 12:04 WIB
BI : Pertumbuhan Ekonomi 6,5% Bisa Munculkan Overheating
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat berpotensi memunculkan 'overheating' dan memicu ketidakstabilan. Jangankan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7%, jika tidak dijaga dengan penambahan sisi suplai maka pertumbuhan ekonomi di 6,5% bisa berbahaya.

"Overheating selalu ada kalau pertumbuhan ekonomi itu cepat berjalan tanpa seimbang dengan pemenuhan kapasitas ekonomi dari sisi suplai. Kalau tidak ada investasi baru dan kapasitas baru yang terjadi memang overheating," ujar Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono ketika ditemui disela HUT BI ke 58 di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (1/7/2011).

Artinya, sambung Hartadi overheating terjadi karena demand alias permintaan lebih cepat dari suplai. "Makanya kita lihat program pemerintah sekarang fokusnya adalah meningkatkan koridor ekonomi seperti MP3EI dan macam-macam itu kan untuk itu. Bagaimana koridor itu komparatif dan competitive advantage dikembangkan," paparnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertumbuhan ekonomi di 7 % akan aman kalau itu dipenuhi tidak akan overheating kalau kapasitas ditambah. Kalau tidak ditambah maka itu pertumbuhan 6,5% bisa overheating," imbuh Deputi Bidang Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI ini.

Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit industri perbankan juga termasuk hal yang perlu diperhatikan dan difokuskan. Karena, sambungnya ketika hanya kredit disisi konsumerisme yang meningkat akan berbahaya.

"Ini harus dilihat detailnya diarahkan kemana, kalau kredit konsumerisme akan berbahaya tidak akan menambah kapasitas produksi bukan demand. BI sedang melihat kredit mana yang membahayakan dan kita encourage itu dan dorong ke sektor yang produktif harus lihat secara detailnya," terangnya.

Rupiah Perkasa di Semester II-2011

Pada kesempatan yang sama Hartadi mengatakan aliran modal masuk alias capital inflow masih akan cukup deras. Hal ini dikarenakan adanya Quantitative Easing di AS.

"Masih deras, karena ada 2 faktor global yakni Th Fed itu kan masih mengeluarkan Quantitative Easing, nah kita juga melihat ada spill over ke negara berkembang yang menjad push factor inflow," katanya.

Sedangkan dari sisi pull factor juga ada, kondisi ekonomi Indonesia yang selangkah lagi masuk investment grade itu jadi faktor penarik.

"Dari sisi rupiah sendiri ada dampaknya, setelah keputusan di Yunani kemarin inflow kita lebih comfortable masuk indonesia. Maka penguatan rupiah atau saya lebih suka mengatakan stabil pada level sekarang walau tidak sekuat sebelumnya. Dapat disimpulkan rupiah itu stabil dengan kecendrungan menguat," tukasnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pagi ini dibuka menguat tipis di posisi Rp 8.570 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.575 per dolar AS

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads