Daging Sapi Impor Langka, Jakarta Dipasok Ikan Sulsel

Daging Sapi Impor Langka, Jakarta Dipasok Ikan Sulsel

- detikFinance
Jumat, 01 Jul 2011 14:52 WIB
Tangerang - DKI Jakarta mendapatkan suplai 1 ton ikan dari Sulawesi Selatan sebagai upaya memenuhi kebutuhan protein hewani pasca berhentinya pasokan daging impor dari Australia.

Fadel menyebut naiknya harga pangan serta hambatan perdagangan antar negara harus menjadi pemacu Indonesia dalam menciptakan kemandirian pangan di era globalisasi.
"Ini dalam upaya mengganti kelangkaan daging sapi impor. Ini juga termasuk gebrakan awal," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dalam acara pengiriman perdana ikan dari Sulawesi Selatan ke Jakarta di Kantor Karantina Hewan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (1/7/2011).

Fadel mengatakan, Indonesia sedang mengalami masalah saat ini yakni daging sapi impor dari Australia tidak bisa masuk lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alasan mereka (Australia) rumah potong di kita tidak bagus. Tapi menurut saya itu kan urusan kita kok. Jadi saya pikir, ya sudahlah kita tidak usah pakai sapi," ujar Fadel.

Tapi kenapa menggantinya dengan ikan, bukan dengan sapi juga? "Kita sedang melakukan itu. Tetapi karena saya melihat ikan di kita berlimpah, ya ikan lebih baik. Proteinnya lebih tinggi," terangnya.

Asisten 1 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sylviana Murni menambahkan, kebutuhan ikan di DKI Jakarta sangat tinggi. "Kebutuhan ikan per tahun di DKI Jakarta mencapai 249 ribu ton. Sementara yang baru bisa disediakan 121 ribu ton, berarti kan jauh sekali. Ada kekurangan yang cukup besar," terang Sylviana.

Kenapa dari Sulawesi Selatan? Fadel mengatakan, ini hanya sebagai gebrakan awal. Ditambah, Sulawesi Selatan, tepatnya Makassar berlimpah komoditas ikan. "Ini akan mengangkat martabat bangsa. Jangan lagi kita serba impor. Dan, memang tahun ini saya kurangi impor. Ke depan nanti daerah lain juga turut serta. Seperti Jawa dan Kalimantan," katanya.

Fadel memastikan harga ikan ini terjangkau karena dari dalam negeri. Ikan tersebut didatangkan ke Jakarta dengan harga Rp 3.000 per kg kalau lewat udara. Sedangkan lewat laut Rp 1.000 per kg.

Untuk terus berkelanjutan program ini, Fadel mengatakan, nelayan-nelayan akan dibantu, mulai dari fasilitas pelabuhannya serta bantuan dari pemerintah pada kelompok nelayan yang masing-masing biasanya 10-20 orang diberikan bantuan Rp 100 juta.

"Kita hari ini sudah masuk dalam krisis, kita melawan. Karena hampir semua sudah impor. Saya tidak rela kita semua dihidupi dengan impor," terang Fadel.

"Apalagi kebutuhan dan kemampuan produksi nasional akan ikan naik. Ini belum termasuk kekayaan laut kita yang saya curigai nangkap di sini dijual ke luar. Saya akan kerjasama dengan KSAL masalah ini," katanya.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads