"Pemberhentian impor sapi, ini akan berkurang impornya. Maka defisit dengan Australia akan berkurang karena selama ini selalu defisit dengan mereka," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan saat ditemui di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Jumat (1/7/2011).
Berdasarkan data impor Mei 2011 dibanding April 2011, defisit perdagangan Indonesia-Australia mencapai 9,5% atau dari US$ 386,5 juta menjadi US$ 349,8 juta. Menurut Rusman, angka ini lebih rendah bila dibanding data umumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita ingin kalaupun begitu impor itu hanya kualitas tertentu saja," ujar Rusman.
Berdasar hasil sensus sapi yang berakhir pada Juni lalu, total sapi dan kerbau mencapai 16.077.192 di seluruh Indonesia. Dengan jumlah kerbau 1.258.319, total sapi 14.818.873. Sementara untuk sapi potong 14.253.732 dan sapi perah 565.141. Jumlah terbesar Jatim 4,7 juta, Jateng 2,1 juta dan Sulsel 1 jutaan. angka ini baru mencapai 99,1% dari total survei karena belum seluruh daerah tuntas disensus.
Seperti diketahui, penayangan video kekerasan sapi di beberapa RPH di Indonesia yang ditayangkan oleh TV ABC 30 Mei 2011 lalu berujung pada penghentian ekspor sapi Australia ke Indonesia selama 6 bulan. Pemerintah Australia sepakat mengirim tim independen bersama tim dari Indonesia untuk memverifikasi RPH yang ada di Indonesia.
Namun penghentian ekspor sapi ke Indonesia tersebut langsung merugikan para peternak Australia hingga miliaran rupiah. Perdana Menteri Australia Julia Gillard akhirnya memutuskan memberikan bantuan kepada para peternak sapi Australia hingga AUD 30 juta (US$ 32 juta) atau sekitar Rp 288 miliar, karena rugi akibat keputusan penghentian ekspor itu.
(nia/qom)











































