Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengakui saat ini buah-buah jenis hidangan meja rumah tangga di Indonesia seperti pisang, jeruk, apel, pepaya, salak dan pir banyak didominasi dari impor terutama jeruk dan apel China.
Ia pun mengatakan selama bertahun-tahun neraca perdagangan buah Indonesia selalu defisit karena lebih banyak mengimpor dari pada mengekspor. Misalnya saja pada tahun 2009 ekspor buah Indonesia hanya US$ 162 juta namun nilai impornya melambung hingga US$ 626 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terdapat kesan buah impor begitu dominan, ternyata angkanya tak benar. Impor terhadap produksi hanya sekitar 3,5%, produksi 2010 (angka sementara) 19,03 juta ton, impor 667.000 ton," katanya di Jakarta, Senin (4/7/2011).
Dikatakan Bayu, secara volume keberadaan buah impor di pasar dalam negeri sejatinya tak besar jika dibandingkan dengan total produksi buah Indonesia. Misalnya data tahun 2009 dari produksi buah lokal sebanyak 18,6 juta ton, impor hanya 640.000 ton atau hanya 3,43% dari produksi. Tahun 2008 dari produksi 18,02 juta ton volume impor 502.000 ton, meski terlihat dari tahun ke tahun impornya terus naik.
Ia menambahkan secara produksi dan konsumsi, sejatinya Indonesia sudah bisa memenuhi. Misalnya tahun lalu dari produksi 19 juta ton buah, konsumsi hanya 18,5 juta ton, sementara tahun 2011 ini konsumsi buah diperkirakan mencapai 19 juta ton.
Bayu menuturkan dalam permintaan pasar buah atau katagori jenis konsumsi, selama ini terbagi dalam beberapa katagori yaitu selain pasar buah untuk hidangan di meja untuk rumah tangga mengambil porsi konsusmi 35-45%, ada juga pasar untuk konsumsi hotel, restoran dan katering seperti pepaya, semangka, melon, nanas dan alpukat yang mengambil porsi 20% konsumsi.
Selain itu ada pasar atau konsumsi buah musiman seperti buah-buah eksotik antara lain durian, mangga, buah naga, sawo dan rambutan, mengambi porsi konsumsi. Biasanya katagori ini juga merupakan buah berbasis ekspor seperti manggis, nanas, mangga dan rambutan yang menyedot konsumsi 10%.
Terakhir adalah katagori konsumsi untuk kebutuhan industri seperti jus, jeruk, mangga, jambu dan apel yang mengambil porsi 30%.
"Supaya pertumbuhan permintaan itu agar yang betul-betul dapat (menikmati) adalah buah lokal. Meski secara alamiah Indonesia itu punya musim. Kalau industri inginnya kontinyu. Itu tantangan, jawabannya utama adalah teknologi," katanya.
(hen/qom)
