Rencananya program itu akan melalui pinjaman jangka pendek Rp 675 miliar dari pemerintah melalui Perusahaan Pengelola Aset (PPA), penyertaan modal negara (PMN) non tunai Rp 3,8 triliun di 2011 dan Rp 2,06 triliun di 2012.
Penyehatan BUMN strategis ini penting untuk meningkatkan peran PTDI dalam pertumbuhan industri penerbangan di dunia. Rata-rata terjadi kenaikan 20% per tahun di bisnis komponen pesawat terbang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program restrukturisasi bermula saat PTDI mengalami kekurangan permodalan di tahun 1998. Pada waktu itu pendanaan dari pemerintah kepada industri strategis ini dihentikan akibat krisis moneter.
"Saya telah tunggu empat tahun ini, saat saya menjabat. Setelah lobi-lobi mulai lah ada keberpihakan. Padahal pada rencana awal Pak Habibie, PTDI akan memiliki kemampuan awal hingga akhir. Proses belum selesai, dan sudah distop. Beban pengembangan jadi beban PTDI. Termasuk dari sebelum-sebelumnya, dimulai 1970-an hingga 2000," terangnya.
Selain beban operasi terdahulu, PTDI pun tidak memiliki cukup modal untuk menerima order baru dari perusahaan seperti Airbus ataupun Boeing. Bahkan manajemen sengaja tidak mencari order, karena khawatir tidak dapat mengirim sesuai jadwal.
"Kami cari order tahun 2008, tapi modal nggak cukup. Tahun lalu bahkan kami nggak berani order besar karena takut nggak deliver," paparnya.
Setelah masuk program penyehatan PPA, manajemen PTDI pun berniat sekaligus melakukan aksi 'bersih-bersih'. "Kita juga ajukan restrukturisasi administrasi. Kami minta BKP dan BPK untuk hitung aset. Kami mau bersih-bersih buku," ucapnya.
Direktur Utama PPA Boyke Mukijat pun menimpali, penyehatan PTDI penting agar perseroan dapat terus tumbuh. Langkah awal yang disiapkan adalah perbaikan struktur modal.
"Kalau equity mau positif kan butuh kas. PPA kasih bantuan pinjaman jangka pendek, Rp 675 miliar. Juga ditambah PMN cash Rp 2 triliun. Kalau setuju, Rp 675 miliar ditarik. Atau dipakai untuk project financing. PPA support. Dengan menjadi sehat, PPA akan bankable," kata Boyke.
Penyehatan PTDI juga dilakukan dalam jangka panjang. Yakni dengan menggandeng strategic partner seperti Airbus Military. "Langkah ini supaya transformasi benar. Kerja sama sejak 1976 yang telah dilakukan dengan CASA, cocok dengan PTDI," paparnya.
Demi perbaikan PTDI sebagai pelaku industri strategis, menurut Boyke, harus dilakukan bersama-sama. Perusahaan swasta atau BUMN hendaknya dapat terlibat dalam bentuk pembelian pesawat buatan Bandung ini.
"Kalau mau beli pesawat, beli di dalam negeri. Kan ada saudara kita yang bikin. Ini hajatan nasional, yuk kita bantuin jualan. Tax (pajak) di sini juga menjadi kendala karena pesawat masuk kategori barang mewah, jadi mahal. Padahal room untuk berkembang di Indonesia masih besar dengan rasio helikopter yang rendah," pungkasnya.
(wep/hen)











































