Tips pertama seperti disampaikan Mari Pangestu adalah belilah suatu barang karena memang diperlukan, bukan karena diinginkan.
"Beli sesuai kebutuhan bukan keinginan. Harusnya pikir mateng-mateng," katanya ketika kunjungan dalam sosialiasi edukasi terpadu konsumen muda cerdas di SMP 19, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (13/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teliti sebelum membeli kalau kasat mata. Warna terlalu terang, tidak aman untuk konsumsi. Sebenernya tidak baik untuk kesehatan," imbuhnya.
Pelabelan juga harus menjadi perhatian konsumen. Hal itu menurut Mari penting agar konsumen tidak sampai membeli barang yang telah lewat tanggal kadaluarsanya.
"Perhatikan juga tanggal kadaluarsa, jangan sampai kita makan barang yang sudah kadaluarsa," tuturnya.
Mari melanjutkan, tips selanjutnya adalah pelabelan. Konsumen cerdas seharusnya dapat meilih produk-produk yang dikonsumsinya sudah memiliki label dan berbahasa Indonesia.
"Yang lain adalah label penjelasan barang itu. Kalau makanan harus ada nomer registrasinya. Kalau tidak ada berarti belum diuji. Selain itu label bahasa Indobesia agar kita memahami apa yang kita konsumsi," tambahnya.
Yang tidak kalah penting yang dikatakan Mari dalam berbelanja adala konsumen harus mengetahui harga dari barang yang akan dibeli. Konsumen cerdas juga seharusnya dapat menawar dan membandingka harga dengan barang lain dan di toko lain.
"Membandingkan harga dengan tepat. Harusnya menawar kok, menawar juga diperbolehkan sebagai konsumen cerdas. Sebelum belanja konsumen juga cari dulu di internet agar sudah punya gambaran," imbuhnya.
Tips terakhir yang diberikan Mari adalah konsemen cerdas itu konsumen yang dapat berhemat. Konsumen yang cerdas dapat mempergunaka uangnya dengan tepat.
"Misalnya uang saku 400 ribu, kalau kita cerdas bisa dapet 2-3 barang atau lebih dan masih ada sisanya, bisa ditabung," beber Mari.
(ade/qom)











































