Mutiara China Dilarang Masuk Indonesia

Mutiara China Dilarang Masuk Indonesia

- detikFinance
Kamis, 14 Jul 2011 18:54 WIB
Mutiara China Dilarang Masuk Indonesia
Jakarta - Indonesia melarang masuknya produk-produk mutiara non standar nasional Indonesia (SNI) khususnya dari China. Masuknya mutiara asal China akan semakin memukul pelaku bisnis mutiara di dalam negeri.

Hal ini disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dalam keterangan tertulisnya saat membuka Munas IV Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI), di Surabaya, Kamis (14/7/2011)

Fadel menuturkan produksi mutiara Indonesia tercatat menguasai 43% produksi mutiara dunia, dengan total produksi sebanyak 12 ton per tahun dan sebanyak 5 ton diantaranya adalah diekspor. Namun demikian, tingginya produksi mutiara belum diikuti dengan peningkatan kualitas mutiara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibatnya, harga mutiara Indonesia di pasar dunia masih jauh lebih rendah dibandingkan mutiara asal Australia.

Langkah pemerintah untuk meningkatkan kualitas mutiara lokal antara lain pembangunan Broodstock Center Mutiara di Karang Asem, Bali. Mendorong terbitnya Standar Nasional Indonesia (SNI) mutiara yang sekarang telah terbit (SNI 4989:2011).

Terbitnya SNI mutiara (SNI 4989:2011) harus digunakan sebagai dasar dalam menyusun Standar Operating Procedure Grading mutiara dan perlu ditindak lanjuti dengan membuat Indonesia Quality Pearl Label (IQPL).

Di 2010, nilai perdagangan mutiara dunia mencapai US$ 1,5 milyar dan Indonesia baru mampu mengekspor US$ 30 juta. Jenis mutiara yang paling mahal dan terkenal adalah south sea pearl, dimana Indoneisa masih tercatat sebagai negara produsen mutiara terbesar di dunia.

Di dalam negeri bisnis ini digeluti oleh 27 perusahaan skala menengah dan besar dengan mempekerjakan sekitar 3.000 orang, terdapat 100 pedagang mutiara, mempekerjakan 100 orang pekerja perhiasan mutiara, 300 pengrajin mutiara, dan melibatkan 5.000 usaha kecil penghasil benih mutiara.

Kondisi ini menunjukan bisnis mutiara perlu didorong karena melibatkan banyak tenaga kerja.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads