Demi Jawaban Jujur, BPS Gelas Sensus RTS di Bulan Puasa

Demi Jawaban Jujur, BPS Gelas Sensus RTS di Bulan Puasa

- detikFinance
Jumat, 15 Jul 2011 08:51 WIB
Demi Jawaban Jujur, BPS Gelas Sensus RTS di Bulan Puasa
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) akan kembali menggelar Sensus Rumah Tangga Sasaran (RTS) untuk memperluas cakupan RTS yang berhak mendapatkan program bantuan sosial. BPS berniat menggelar sensus itu selama bulan puasa untuk mendapatkan jawaban yang jujur.

RTS lanjutan ini untuk mendapatkan cakupan sensus hingga 40 persen dari rumah tangga di seluruh Indonesia. Kepala BPS Rusman Heriawan menyatakan pihaknya mendapat amanat dari Wakil Presiden untuk memperluas cakupan RTS hingga 40 persen. Saat ini RTS yang berjumlah 17,5 juta baru mencakup 20-25 persen dari total rumah tangga di Indonesia.

"Data tahun 2008 yang sebanyak 17,5 juta, coverage-nya masih kecil. Dalam 17,5 juta RTS itu tidak sesuai dinamika yang terjadi saat ini, kan mungkin ada yang keluar, tapi ada juga yang masuk. Jadi, pemerintah ingin memperluas cakupan RTS untuk program perlindungan sosial, sudah lama ingin tapi baru sadar, mereka yang nyaris miskin jumlahnya juga cukup besar," ujarnya ketika dihubungi detikFinance, Jumat (15/7/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan adanya sensus RTS tersebut, lanjut Rusman, diharapkan sekitar 27 RTS dapat menikmati program-program perlindungan sosial dari setiap Kementerian/Lembaga.

"Jadi nanti setiap K/L ditantang memberikan spesifikasi yang menjadi sasarannya. Misal Kemenkes tentukan sasaran yang mau diberikan program sosial dengan beberapa klasifikasi, kita berikan RTS yang sesuai klasifikasinya. Bulog juga misalnya yang mau diberikan raskin dengan kategori ini ini ini, kita berikan RTS yang sesuai kategori itu. Jadi jumlah RTS-nya beda-beda di setiap K/L," jelasnya.

Rusman menyatakan sensus RTS ini akan dilakukan selama 1 bulan, sejak hari ini (15/7) hingga 15 Agustus dengan masyarakat miskin yang menjadi narasumber.

"Dulu itu kan ada yang cuma diambil dari pernyataan ketua RT/RW atau lurah, itu kan bisa ada unsur kepentingan, sekarang tidak, masyarakat miskinnya yang kita tanya kira-kira ada berapa orang yang bernasib sama atau lebih parah. Kita lakukan juga pada bulan puasa karena paling khusus, informasinya lebih bagus, kan kalau bohong dosa. Barangsiapa yang berbohong saat berpuasa maka akan hilang pahala puasanya," ujar Rusman.

Dalam sensus tersebut, Rusman menyatakan para petugas sensus akan menggunakan data sensus penduduk 2010 dan data RTS terakhir sebagai landasan pelaksanaan sensus.

"Ada daftar awal dari yang 17,5 juta itu dan yang hasil sensus penduduk lalu, jadi diteliti dulu. Mereka yang sensus tidak tangan kosong. Kita melakukan sweeping berdasarkan itu," katanya.

Untuk melakukan sensus RTS dengan cakupan 40 persen ini, Rusman menyatakan BPS butuh tambahan anggaran sekitar Rp 200 miliar sehingga total anggaran yang digelontorkan untuk sensus tersebut pada tahun ini sebesar Rp 550 miliar.

"Suda ada Rp 350 miliar untuk anggaran 2011, tapi itu hanya bisa mencakup 25 persen tadi atau 17,5 juta tadi, tapi karena pemerintah, Wapres, memerintahkan BPS untuk ditambah cakupannya sampai 40 persen jadi butuh tambahan Rp 200 miliar untuk tambah petugas, instrumen, dan sebagainya. Total anggaran Rp 550 miliar. Namun, dengan data ini kebanggannya kita dapat mendukung semua program K/L yang terkait perlindungan sosial," pungkasnya.


(nia/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads