Rencana pemangkasan peringkat utang Amerika Serikat (AS) oleh dua lembaga pemeringkat internasional tak akan berpengaruh banyak terhadap perekonomian Indonesia. Negeri Paman Sam itu dinilai masih punya jalan keluar dari krisis ini.
Demikian hal itu diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution di kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (15/7/2011).
"Saya tidak melihat bahwa kita sudah harus menganggap ini sudah berbahaya, enggak, mereka masih bisa cari jalan keluar untuk keadaan mereka sendiri. AS kan solusinya enggak banyak kan mereka harus menaikkan batas pinjamannya agar ada dari kemampuan fiskalnya untuk mendorong ekonomi atau quantitative easing (QE) lagi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, perdebatannya masih soal batas utang dinaikkan yang kelihatannya masih alot sekali, tapi dalam 2 minggu lebih sedikitlah akan ada keputusannya. Jadi enggak usah terlalu dianggap bahwa pasti tidak atau pasti iya, ya mereka pasti berkepentingan untuk negara mereka sendiri," ujarnya.
Seperti diketahui sebelumnya, Standard & Poor menjadi perusahaan peringkat kedua minggu yang akan menurunkan peringkat kredit AS menyusul Moddy's yang sudah lebih dulu awal pekan ini.
S&P mengatakan ada setidaknya 50% kemungkinan akan menurunkan rating AAA dalam waktu 90 hari, dengan alasan risiko kebuntuan pembahasan utang AS hingga tenggat waktu untuk meningkatkan plafon utang negara tersebut.
Peringkat jangka panjang AS mungkin turun oleh satu tingkat atau lebih ke dalam kategori AA dalam tiga bulan ke depan jika S&P menyimpulkan Kongres dan pemerintahan Presiden Barack Obama belum mencapai solusi yang kredibel pada meningkatnya beban utang pemerintah.
Moody's Investors Service menempatkan rating kredit AAA pada review tanggal 13 juli untuk dipangkas terkait kekhawatiran para pejabat negara yang tidak akan menaikkan batas utang US$ 14,3 triliun pada waktunya untuk mencegah gagalnya pembayaran. (ang/dnl)











































