Ekspansi Google ke Indonesia Terganjal Regulasi

Ekspansi Google ke Indonesia Terganjal Regulasi

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Sabtu, 23 Jul 2011 12:20 WIB
Ekspansi Google ke Indonesia Terganjal Regulasi
Nusa Dua -

Ekspansi Google ke Indonesia terganjal masalah regulasi. Maka dari itu eks CEO Google, Eric Schmidt meminta kelonggaran terkait data centre yang wajib ada di Indonesia bagi perusahaan multinasional berbasis teknologi.

Hal ini disampaikan Eric Schmidt kepada Erwin Aksa yang mewakili Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa, di sela-sela Regional Entrepreneurship Summit, Nusa Dua, Bali, Jumat (22/7/2011) malam.

"Telekomunikasi sudah tidak terbatas, dan data centre, saya kira kewenangannya ada di Menteri Komunikasi dan Telekomunikasi. Mereka (Google) minta ada fleksibiltas. Mereka kan punya tersentral. Masak kita yang membatasi," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kelonggaran lain yang diminta Google adalah, keberpihakan positif dari pemerintah Indonesia atas perusahaan advertising asing. "Ini terkait negatif list advertising asing di Indonesia. Google kan usahanya berbasis itu," tutur Erwin.

Memang penetrasi internet di Indonesia sangat rendah. Untuk itu, lanjut Erwin, perlu optimalisasi pendidikan khususnya perancangan kurikulum yang mendukung pengetahuan masyarakat akan internet.

"Tetap yang mendasar di pendidikan. Ini yang menopang. Utamanya science and technology. Dengan demikian maka pengusaha yang bergelut juga terbatas. Padahal pasar terbuka lebar. Dan sekarang bagaimana pekerjaan rumah infrastruktur harus diatur. Begitu juga dengan SDM," tuturnya.

Erwin menambahkan, perguruan tinggi Indonesia juga harus mendorong kurikulum yang berbasis teknologi. Tentu dengan berlangsungnya rancangan pendidikan, maka tercipta ekosistem enterpreneurship.

"Google membutuhkan konten, meski sudah banyak dilakukan pengusaha di Indonesia. Dan Google jadi Katalis dan memberikan pendidikan bagi anak muda. Google kan harus punya basis dan mereka tidak mungkin bisa direct access, karena ada kendala bahasa dan market," ucapnya.

(wep/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads