Hal ini disampaikan Ir Ciputra, dalam regional entrepreneurship summit, di Nusa Dua Bali, Sabtu (23/7/2011).
"Ubah keseluruhan kurikulum pendidikan di Indonesia. Mainset Indonesia harus diubah," katanya dengan suara lantang, diiringi tepuk riuh peserta regional entrepreneurship summit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang mampu meningkatkan kemampuannya secara independen. Kita bisa berkreasi, dan juga berkreasi di perusahaan kita sendiri," tutur Ciputra.
Pada kesempatan lalu, ia memang menilai pemerintah Indonesia dari awal hingga kini tidak mengajarkan entrepreneur. Ini membawa dampak rasio pengusaha Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan negara lain.
Menurut catatan Ciputra, Indonesia hanya memiliki sekitar 400 ribu usahawan atau 0,18% dari jumlah peduduk Indonesia. Padahal di negara maju, rasio jumlah pengusaha mencapai 2% dari total penduduk.
Bahkan Singapura 7% penduduknya adalah pengusaha dan mampu memberikan pendapatan karyawan disana 15 kali lebih besar dari Indonesia.
Bahkan Ciputra pernah berucap, Enterprenuership di Indonesia sudah gawat betul. "Kondisi enterprenuer saat ini, saya sedih," ungkapnya kala itu.
Padahal seseorang baru bisa disebut enterpreneur jika dapat mengubah 'kotoran' menjadi emas. Kotoran yang dimaksud Ciputra adalah permasalahan yang ada di sekitar. Dengan gagasan dan terobosan kreatif, bisa melahirkan solusi (emas) bagi orang lain.
(wep/ang)











































