Macetnya Jakarta Bukan Gara-gara Kebanyakan Mobil

Macetnya Jakarta Bukan Gara-gara Kebanyakan Mobil

Ade Irawan - detikFinance
Senin, 25 Jul 2011 13:51 WIB
Macetnya Jakarta Bukan Gara-gara Kebanyakan Mobil
Jakarta - Kemacetan yang terjadi di Jakarta bukanlah karena banyaknya jumlah mobil yang beredar, melainkan karena buruknya infrastruktur, terutama jalan raya, yang menunjang kelancaran berkendara di Jakarta.

Presiden Direktur PT Indomobil Sukses Internasional tbk (IMAS), Jusak Kertowidjojo mengungkapkan, jumlah mobil di Jakarta masih tergolong sedikit bila dibandingkan dengan jumlah sepeda motor yang berkeliaran di jalan-jalan ibukota.

"Kemacetan di sini karena infrastruktur. Jumlah mobil masih sedikit dibandingkan motor. Kita masih (banyak) di sepeda motor," katanya ketika ditemui di kantor Kementerian Perindustrian Senin (25/7/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Jusak, permintaan mobil di kawasan Jabodetabek masih tergolong kecil. Sedangkan, permintaan mobil yang besar adanya di daerah-daerah. "Produk mobil permintaannya banyak dari daerah," ujarnya.

Jusak menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan pembatasan produksi mobil untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya. "Jadi kami tidak melakukan pembatasan produksi," tuturnya.

Ketika ditanyai tentang mobil murah, Jusak hanya menjawab pihaknya masih menunggu regulasi pemerintah. "Belum tahu masalah mobil murah karena masih menunggu kebijakan dari pemerintah,"ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, pemerintah menyangkal akan adanya penggelembungan (bubble) di sektor otomotif karena rendahnya uang muka (down payment) pembelian kendaraan bermotor. Walaupun saat ini masih ada pihak-pihak yang memberikan keringanan uang muka sampai dengan 10% dari harga kendaraan bermotor.

"Sekarang mayoritas 20% DP-nya. Beberapa yang minoritas DP-nya 10%, tapi masih minoritas," kata Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi ketika dikonfirmasi detikFinance akan adanya bubble otomotif.

Budi meyakini, penggelembungan di sektor otomotif belum akan terjadi karena pihak-pihak bank masih menerapkan uang muka yang tinggi. "Artinya belum bubble karena DP-nya tinggi. Artinya cukup aman," ujarnya.

Budi menyarankan, memang lebih baik uang muka kredit pembelian mobil dinaikan untuk mencegah terjadinya bubble. Namun, Budi hanya tersenyum ketika ditanyai kenaikan uang muka agar menghindari terjadinya bubble.

"Ya memang bagaimana kalau itu dinaikan. Angkanya ya terserah sampai berapa yang ideal, bisa naik 10% atau 20%," imbuhnya.

(ade/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads