Harga Cabai di Karo Anjlok Hingga Rp 3.000/Kg

Harga Cabai di Karo Anjlok Hingga Rp 3.000/Kg

- detikFinance
Kamis, 28 Jul 2011 10:05 WIB
Harga Cabai di Karo Anjlok Hingga Rp 3.000/Kg
Karo - Petani cabai di Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), mengeluhkan anjloknya harga cabai belakangan ini. Harga jual yang mencapai Rp 3.000 per kilogram membuat petani memutuskan untuk tidak memanen cabai tersebut.

Pelcik Pandia (40), salah seorang petani di Desa Kutarayat, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo menyatakan, dengan harga yang sangat murah tersebut maka petani tidak mungkin melakukan panen. Pasalnya untuk memanen harus diupahkan. Belum lagi biaya ongkos angkut dari ladang ke pasar.

“Dengan harga jual yang sangat murah, bahkan untuk menutupi biaya upah panen saja tidak mencukupi. Jadi lebih bagus dibiarkan saja. Banyak ladang yang tidak terurus di sini sekarang,” kata Pandia di Kutarayat, Kamis (28/7/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ladang-ladang tersebut sudah dibiarkan dalam sebulan terakhir. Rerumputan mulai tumbuh di alur-alur tanaman cabai, sehingga menutupi buah cabai yang sudah kemerahan. Beberapa pohon, buahnya bahkan sudah mengering karena tidak kunjung dipetik.

“Kalau misalnya harga Rp 10.000 saja per kilo, sudah bisalah untuk makan. Kita belum dapat untung, cuma tidaklah rugi, tapi kalau sekarang ini, ya susah,” kata Pandia.

Cabai, kata Pandia, juga butuh ‘makan’. Harus dirawat supaya buahnya bagus, daunnya juga terjaga. Untuk perawatan tersebut dibutuhkan pupuk yang harganya tidak pernah murah dan tidak pernah turun. Di sinilah masalahnya yang sering dialami petani.

Secara terpisah, Simon Sitepu dari paguyuban petani cabai di Kecamatan Namanteran menyatakan, masalah harga ini sangat merugikan petani. Petani hanya sebentar saja menikmati harga cabai yang baik, yakni Rp 40 ribu per kilogram di tingkat petani, lantas berkembang menjadi Rp 60 ribu per kilogram di pasar.

“Ketika harga cabai naik, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah DPR, DPRD semuanya menyatakan harga harus ditekan, bahkan semua orang disuruh menanam cabai dalam pot. Tapi ketika harga cabai anjlok karena adanya barang impor, sedikit pun pemerintah tidak ambil peduli,” kata Simon Sitepu.

Petani, ujar Sitepu, selalu dalam posisi yang dirugikan. Tetapi sikap pemerintah yang dinilai tidak peduli terhadap nasib petani cabai ini, sudah biasa. Sebab pemerintah lebih mementingkan politik.

(rul/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads