Menurut Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia, Teguh Boediyana ketatnya ekspor Australia dapat dijadikan momentum untuk memperbaiki segala sesuatu yang ada di dalam negeri.
"Ketat sekali ekspor dari Australia, tidak seperti dulu, ini menguntungkan daerah untuk melakukan perbaikan mulai dari revitalisasi RPH (rumah potong hewan), sampai kualitas juga untuk ke depan," ujarnya ketika ditemui di kantor Kementerian Pertanian, Kamis (28/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah suspend dibuka belum karena eksportir sapi dari Australia harus mendapatkan lisensi dari pemerintahnya. Sekarang belum ada lagi. Faktanya belum ada karena mereka harus mendapat lisensi," kata Banun.
Teguh menambahkan, pola pikir peternak sapi lokal harus diubah, yaitu tidak hanya menernak sapi saja, tapi peternak sapi juga harus menghasilkan daging sapi yang banyak. Caranya dengan menernak sapi sampai gemuk.
"Mindset-nya diubah dari yang hanya mengurus sapi saja, tapi menghasilkan daging. Jadi sapinya tidak kurus," tuturnya.
Menurutnya kebutuhan konsumen terhadap daging perlu dihitung kembali. Manfaatnya, pemasok daging dapat mengetahui berapa jumlah daging yang dibutuhkan. Hal ini juga dapat menjadi faktor pendorong para peternak sapi untuk semakin menambah produksi.
"Demand perlu dihitung ulang, dan hitung kemampuan supply dari sensus jadi patokan supply berapa," imbuhnya.
(ade/hen)











































