Ekonomi AS Masih Suram, RI Terus Kebanjiran Dana Asing

Ekonomi AS Masih Suram, RI Terus Kebanjiran Dana Asing

- detikFinance
Senin, 01 Agu 2011 10:42 WIB
Ekonomi AS Masih Suram, RI Terus Kebanjiran Dana Asing
Jakarta - Senat AS telah memberikan lampu hijau kepada pemerintah Barack Obama untuk menaikkan batas utang guna menutupi utang jatuh tempo di 2 Agustus ini. Namun AS belum keluar dari bayang-bayang krisis dan Indonesia masih akan dibanjiri dana asing.

Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, penyelesaian jatuh tempo utang ini belum bisa membantu AS menyelesaikan persoalan ekonominya.

"Deal (persetujuan) tercapai hanya untuk hindari default (ada juga tekanan China dan Jepang sebagai pemegang surat utang AS terbesar). Namun diperkirakan tidak membantu penyelesaian masalah fiskal, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang," jelas Rahmat kepada detikFinance, Senin (1/8/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Rahmat, beberapa masalah ekonomi tadi tidak bisa diselesaikan karena AS terus memotong anggaran belanja negaranya dalam jumlah besar dalam 5 tahun terakhir. Selain itu, tidak ada kenaikan penerimaan pajak.

"Kemungkinan besar suku bunga masih akan ditahan cukup rendah sehingga capital inflows (arus dana asing) ke emerging markets, khususnya Indonesia masih akan tetap besar. Pasar sekunder SBN (surat berharga negara) masih tetap bullish, minggu lalu yield SUN (surat utang negara) 10 tahun sebesar 7,2% dan kepemilikan asing sudah tembus 35%," tuturnya.

Seperti diketahui, AS kini hanya memiliki waktu yang sempit sebelum tenggat waktu penyelesaian masalah kenaikan batas utang pada 2 Agustus. Namun Pemimpin Senat AS, Harry Reid telah memberikan lampu hijau untuk rancangan kenaikan batas utang setelah melakukan pembicaraan dengan rekannya dari Partai Demokrat.

"Ada beberapa isu yang telah dipecahkan dan kita harus mengerti bahwa belum ada kesepakatan yang dibuat. Kami optimistik sebuah kesepakatan bisa tercapai, namun kita belum sampai di sana," ujar Reid seperti dikutip dari AFP..

Presiden AS Barack Obama juga telah mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk mengurangi defisit sekaligus menghindari gagal bayar. Parlemen AS dan Gedung Putih akhirnya sepakat untuk memotong US$ 2,5 triliun dari defisit selama 10 tahun ke depan, beberapa saat sebelum tenggat waktu pada 2 Agustus.

Dengan kesepakatan itu, maka batas utang AS sebesar US$ 14,3 triliun akan meningkat sekitar US$ 2,4 triliun dalam 2 tahapan.



(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads