Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, penyelesaian jatuh tempo utang ini belum bisa membantu AS menyelesaikan persoalan ekonominya.
"Deal (persetujuan) tercapai hanya untuk hindari default (ada juga tekanan China dan Jepang sebagai pemegang surat utang AS terbesar). Namun diperkirakan tidak membantu penyelesaian masalah fiskal, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang," jelas Rahmat kepada detikFinance, Senin (1/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemungkinan besar suku bunga masih akan ditahan cukup rendah sehingga capital inflows (arus dana asing) ke emerging markets, khususnya Indonesia masih akan tetap besar. Pasar sekunder SBN (surat berharga negara) masih tetap bullish, minggu lalu yield SUN (surat utang negara) 10 tahun sebesar 7,2% dan kepemilikan asing sudah tembus 35%," tuturnya.
Seperti diketahui, AS kini hanya memiliki waktu yang sempit sebelum tenggat waktu penyelesaian masalah kenaikan batas utang pada 2 Agustus. Namun Pemimpin Senat AS, Harry Reid telah memberikan lampu hijau untuk rancangan kenaikan batas utang setelah melakukan pembicaraan dengan rekannya dari Partai Demokrat.
"Ada beberapa isu yang telah dipecahkan dan kita harus mengerti bahwa belum ada kesepakatan yang dibuat. Kami optimistik sebuah kesepakatan bisa tercapai, namun kita belum sampai di sana," ujar Reid seperti dikutip dari AFP..
Presiden AS Barack Obama juga telah mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk mengurangi defisit sekaligus menghindari gagal bayar. Parlemen AS dan Gedung Putih akhirnya sepakat untuk memotong US$ 2,5 triliun dari defisit selama 10 tahun ke depan, beberapa saat sebelum tenggat waktu pada 2 Agustus.
Dengan kesepakatan itu, maka batas utang AS sebesar US$ 14,3 triliun akan meningkat sekitar US$ 2,4 triliun dalam 2 tahapan.
(dnl/qom)










































