Ketua Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Assibsindo) Kafi Kurnia mengakui impor bawang putih yang terus didominasi asal China begitu menyedihkan. Ia mencatat sentra-sentra produksi bawang putih utama seperti Brebes, Tegal dan Cirebon sudah di ujung tanduk.
"Sentra produksi bawang merah dan putih kian berkurang, sementara kebutuhan kita terus meningkat. Dulu sentra Brebes, ada beberapa lagi dulu di Cirebon, Tegal makin lama sentra makin kecil tanah dipakai buat yang lain, problemnya adalah tanah," kata Kafi kepada detikFinance, Senin (1/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita punya komitmen dalam ketahanan pangan masih rentan," katanya.
Ia tidak bisa memungkiri kebutuhan bawang putih di Indonesia cukup tinggi. Dengan pasokan dalam negeri tak mampu memenuhi, maka pilihan impor bawang putih adalah jalan terbaik daripada menimbulkan risiko kekurangan pasokan dan gejolak harga.
"Jujur saja bawang putih China suplainya konsisten, gede-gede kualitasnya," katanya.
Diperkirakan dari total kebutuhan bawang putih di dalam negeri hanya bisa dipenuhi 8-10% dari dalam negeri, sementara sisanya harus diimpor dari China. Negeri Tirai Bambu ini menguasai kurang lebih 80% bawang putih impor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) di Juni 2011 pemasukan impor bawang putih oleh Indonesia terbesar berasal dari China sebesar 47.000 ton dengan nilai US$ 33,168 juta dan Taiwan sebesar 270 ton dengan nilai US$ 177.000.
Sementara total impor bawang putih di Juni 2011 sebesar 47.403 ton dengan nilai US$ 33,471 juta. Dari angka ini terlihat sekali dominasi bawang putih impor dari China. Bahkan berdasarkan data semester I-2011, total impor bawang putih sebesar 178,9 ribu ton dengan nilai US$ 132,77 juta.
(hen/dnl)











































