Mentan: Ngumpul Ora Ngumpul Asal Mangan

Mentan: Ngumpul Ora Ngumpul Asal Mangan

Ade Irawan - detikFinance
Selasa, 02 Agu 2011 12:42 WIB
Mentan: Ngumpul Ora Ngumpul Asal Mangan
Jakarta -

Falsafah kebanyakan orang Indonesia cenderung lebih mementingkan kebersamaan daripada ketahanan pangan. Hal ini lah yang membuat orang-orang sulit untuk melakukan transmigrasi ke kawasan-kawasan yang potensial untuk dijadikan lahan pertanian.

Ada semacam ikatan bagi masyarakat luas lebih senang berkumpul di kawasan sekitar keluarganya atau teman-teman terdekatnya.

Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Suswono falsafah Mangan Ora Mangan Asal Ngumpul seharusnya dapat diubah menjadi Ngumpul Ora Ngumpul Asal Mangan dengan mengikuti program transmigrasi untuk mengembangkan lahan pertanian di sentra transmigrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak yang belum mengenal lahan di luar Jawa untuk pertanian. Jangan Mangan Ora Mangan Ngumpul, tapi Ngumpul Ora Ngumpul Asal Mangan. Kan nantinya bisa pulang ke sambangi keluarga juga nantinya," ujarnya dalam pembukaan penandatangan MoU Kemenakertrans dengan Kementan di Jalan Kalibata, Jakarta, Selasa (2/8/2011).

Suswono menilai, masalah pertanian untuk ketahanan pangan di Indonesia ini semakin tahun semakin sulit untuk diatasi karena akan terpengaruh dengan perubahan iklim dan perubahan fungsi lahan. Karena itu, program-program yang sudah dijanjikan pemerintah haruslah dilakukan sejak sekarang.

"Apa yang bisa kita lakukan? Kita akan melakukan perluasan dan pengelolaan lahan dan percetakan sawah baru di daerah transmigrasi. Tapi kan kalau cetak sawah tidak langsung produksinya sama kaya sawah lama," tuturnya.

Suswono kembali mengingatkan, perintah menyediakan cadangan beras dalam beberapa tahun ke depan haruslah mencapai 10 juta ton. Untuk tahun 2011 sendiri target produksi beras mencapai 70,6 juta ton gabah atau setara dengan 38 juta ton beras, padahal kebutuhan beras Indonesia per tahun mencapai 34 juta ton.

"Surplus 3-4 juta ton beras dirasa masih sangat riskan karena kebutuhan kita per bulan mencapai 2,7 juta ton," ungkapnya.

Untuk mencapai target tersebut, Suswono mengimbau, penduduk Indonesia seharusnya dapat megurangi konsumsi beras per kapitanya dan diimbangi dengan mengembangkan tanaman-tanaman sumber karbohidrat.

"Tidak kalah pentingnya mengurangi konsumsi beras, persoalannya seluruh Indonesia menjadi pemakan beras. Keragaman memakan karbohidrat pun penting harus kita kembangkan. Tidak mesti harus padi, tidak mesti harus beras, non beras dan non padi tentu kita akan optimalkan," jelasnya.

(ade/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads