"Ini kan kondisi-kondisi yang terjadi di global. Kondisi-kondisi yang temporer kalau menurut saya sih. Kondisi Amerika, uncertainty Eropa itu akan berlanjut, kita sudah tahu itu," ujar Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (5/8/2011).
"Tapi sekali lagi, on the long term, inflows akan tetap masuk. Kecenderungan rupiah juga akan relatif kuat dan stabil dalam konteks itu dengan cadangan devisa kita US$ 122 miliar, nothing to worry lah (tak perlu khawatir)," imbuh Perry.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira bukan resesi. Kalau resesi growth rendah, negatif, menurun, itu resesi. Yang diperkirakan pertumbuhan 2011 hanya lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya," tambahnya.
BI sendiri 'pede' akan kondisi Indonesia dan belum sama sekali khawatir apa yang terjadi ditingkat global ini. "Jika dilihat ekspor kita migas dan non migas tinggi di atas 30%. Strong. Manufacture juga tinggi," kata Perry.
Lebih jauh Perry mengatakan, sesuai dengan tren yang sebelumnya inflow masih tetap mengalir ke RI. Kalau dibanding pada tahun 2010 jelas akan sedikit lebih rendah.
"Tapi perkiraan masih cukup besar portfolio inflows kira-kira US$12 miliar bisa masuk tahun ini. Untuk keseluruhan tahun, kira-kira seperti itu. Surat utang, saham, dan ada yang ke SBI tapi kecil, portfolio inflows larinya," kata Dia.
Seperti diketahui, bursa Asia hari ini merosot tajam mengikuti jatuhnya bursa Wall Street karena kekhawatiran terjadinya pengulangan resesi akibat memburuknya perekonomian AS dan krisis utang di Eropa.
Mata uang Jepang, yen juga menguat tajam. Otoritas Jepang harus turun tangan melakukan intervensi besar-besaran untuk melindungi yen agar tidak menguat terlalu tajam sehingga merugikan eksportirnya.
Harian ekonomi Jepang, Nikkei melaporkan, otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menahan laju penguatan yen hingga 4 triliun yen (US$ 50 miliar). Angka tersebut merupakan intervensi harian terbesar dalam sejarah pasar finansial Jepang.
Bursa Wall Street juga dilanda aksi jual hebat, terburuk sejak pertengahan krisis di awal era 2009. Investor melakukan koreksi besar karena khawatir AS akan kembali masuk ke resesi.
Investor juga khawatir krisis utang di Eropa terus meluas dan akan menerpa dua negara terbesarnya yakni Italia dan Spanyol.
(dru/ang)











































