Pemerintah Harus Ambil Langkah Cepat Antisipasi Dampak Krisis AS dan Eropa

Pemerintah Harus Ambil Langkah Cepat Antisipasi Dampak Krisis AS dan Eropa

- detikFinance
Minggu, 07 Agu 2011 12:20 WIB
Jakarta - Pemerintah harus cepat mengambil beberapa langkah-langkah krusial menanggapi krisis utang Amerika Serikat. Pengamat ekonomi Drajad Wibowo mengatakan setidaknya harus ada 4 langkah penting yang bisa dilakukan pemerintah dalam mengantisipasi gejolak pasar finansial global ini.

Pertama, melakukan pemutakhiran terhadap stress test perbankan dan mengidentifikasi segera bank-bank mana yang paling terancam efek domino kemerosotan AS.

Kedua, melakukan kebijakan terobosan untuk membuat investment-led growth, dengan target pertumbuhan investasi 10-15 persen. Ketiga, segera melakukan pengefektifan belanja APBN sehingga bisa memicu investasi tambahan dan konsumsi rumah tangga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keempat, segera mengembangkan produk-produk keuangan yang terkait infrastruktur untuk menangkap peluang dari diversifikasi portofolio oleh investor keuangan global.

"Produk seperti infrastructure bonds akan sangat menarik jika didesain benar. Ini bisa mengurangi dampak negatif dari kemorosotan ekonomi AS dan dunia terhadap ekonomi Indonesia," ujarnya kepada detikFinance, Minggu (7/8/2011).

Drajad menilai adanya penurunan penringkat utang Amerika Serikat hanya akan berdampak kecil terhadap perekonomian AS.

"Sebenarnya peringkat utang AS hanya turun sedikit. Jadi secara teknis seharusnya dampaknya terhadap perekonomian AS tidak besar, misalkan dampaknya terhadap borrowing rate di pasar domestik AS seperti mortgage rate, bunga kartu kredit dan lain-lain," jelasnya

Namun, lanjut Drajad, karena hal ini pertama kali terjadi, dan di sisi lain program pemulihan ekonomi tersandera oleh permainan politik di House of Representative dan Kongres, faktor psikologis terkait turunnya peringkat tersebut akan berdampak lebih besar.

"Pelaku pasar global tidak percaya bahwa AS akan bisa mengatasi defisitnya dan perlahan-lahan menyelesaikan masalah utangnya," ujarnya.

Menurut Drajad, dampak psikologis ini yang membuat penurunan peringkat tersebut akan lebih besar efeknya terhadap suku bunga domestik AS, inflasi, pertumbuhan sektoral, dan stabilitas fiskal.

"Kekhawatiran terhadap hal-hal tersebut telah menjatuhkan ekspektasi terhadap perekonomian global, apalagi belum ada terobosan berarti untuk atasi masalah utang Eropa," jelasnya.

Dengan demikian, Drajad menilai Cina akan menggantikan posisi dominan AS. Pasalnya, negara Tirai Bambu tersebut memiliki porsi besar terhadap perekonomian dulu, setelah AS.

"Ini membuat Cina menjadi negara paling dominan sebagai power house ekonomi dunia. Harapan dunia tinggal ditumpukan pada Cina," tegasnya.

Mengenai dampak krisis utang AS terhadap perekonomian Indonesia, Drajad menyatakan akan kecil. Pasalnya, porsi ekspor Indonesia terhadap perekonomian dunia relatif kecil jika dibandingkan negara lain seperti Singapura, Hongkong, Korea Selatan, dan India.

"Karena proporsi ekspor Indonesia terhadap perekonomian relatif kecil, dampak semua itu terhadap Indonesia sebenarnya tidak sebesar terhadap negara lain seperti Singapura, Hongkong, Korsel dan India," pungkasnya.

(nia/dru)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads